Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Ali Syarief

Lebih baik baca tulisanku spy kenal siapaku menurutmu www.alisyarief.com

Presiden SBY Sesungguhnya Tidak Memiliki Hak Prerogative

OPINI | 19 November 2012 | 10:02 Dibaca: 341   Komentar: 0   0

Grasi itu  sesungguhnya adalah hak presiden selaku kepala Negara. Ttp UUD kita tidak menjelaskan satu pasalpun tentang President selaku Kepala Negara.  Pemberian Grasi oleh Presiden setelah memperhatikan MA. Pada kasus Lola, Presiden tdk mendengar pertimbangan MA, ia putuskan sendiri! Sementara terpidana mati Lola ternyata orang yg tdk layak mendapat Grasi, setelah di temukan novum baru, bahwa ia adalah bandar narkoba.

Prerogatif berasal dari bahasa latin praerogativa (dipilih sebagai yang paling dahulu memberi suara), praerogativus (diminta sebagai yang pertama memberi suara), praerogare (diminta sebelum meminta yang lain).

Pertama saya ingin mengutip pendapat Hendarmin Ranadireksa,sebagai berikut : “Substansi grasi, amnesti, abolisi dan rehabilitasi adalah pengakuan atas keterbatasan manusia sebagai makhluk yang tidak sempurna.Manusia bisa khilaf, bahwa kesalahan adalah fitrah manusia, tidak terkecuali dalam memutus perkara. Yudikatif… sebagaimana halnya Legislatif dan Eksekutif berada di wilayah ‘might be wrong’. Penggunaan hak prerogatif oleh kepala negara (wilayah can do no wrong) hanyadalam kondisi teramat khusus. Hak prerogatif dalam bidang hukum adalah katup pengaman yang disediakan negara dalam bidang hukum’.

Sekarang, kita telaah, bahwa didalam UUD 1945 Dalam Satu Naskah, tidak memuat satu pasalpun yang menjelaskan Peran Presiden selaku kepala Negara yang wilayahnya Can Do No Wrong itu. Artinya hak-hak yang melekat pada dirinya tidak ada.Karena itu versi UUD 1945 Dalam satu Naskah, haq prerogative Presiden tsb diejlaskan seperti ini :

UUD 1945 Dalam Satu Naskah, Pasal 14

(1) Presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikanpertimbangan Mahkamah Agung. *)

(2) Presiden memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan…pertimbanganDewan Perwakilan Rakyat. *)

UUD yang kita miliki ini sungguh sangat Rancu dan produknya selalu akan menuai Kontoversi, seperti kasus grasi untuk Lola, sama sekali TIDAK bersifat sebagai “katup pengaman” karena mengusik nurani keadilan publik. Ini FATAL.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Karnaval Kota yang Paling Ditunggu …

Ikrom Zain | | 30 August 2014 | 14:46

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | | 30 August 2014 | 16:19

Nasib Sial Florence Bisa Terjadi di …

Pebriano Bagindo | | 29 August 2014 | 20:14

Dian Sastrowardoyo dan Mantan ART Saya …

Ariyani Na | | 30 August 2014 | 10:04

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 9 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 14 jam lalu

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 19 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Kecerdasan Intelektual Tanpa Moral …

Egy Nuralamsyah | 8 jam lalu

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | 8 jam lalu

Madrid yang Tak Belajar dari Pengalaman …

Garin Prilaksmana | 8 jam lalu

Anaphalis …

Riki Asiansyah | 8 jam lalu

Dan Memang Benar …

Vincensia Enggar | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: