Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Jeffri Zuntak

Aktif di Studi hukum Properti Indonesia, Pemerhati Jokowi Basuki dengan perubahan-perubahannya.

“Halinar” di Rutan dan Lapas, Lagi-lagi “Istilah” Untuk Pencitraan

OPINI | 03 October 2012 | 16:54 Dibaca: 209   Komentar: 0   0

Istilah baru lagi dikeluarkan Wamenkunham Denny Indrayana. Halinar,  Denny Indrayana mengajak 50 pimpinan lapas dan rutan untuk mewujudkan Pemasyarakatan yang bebas Halinar. Pemasyarakatan Halinar ialah Lapas yang bebas Hape, Pungli Dan Narkoba (Halinar).
“Kita pasti bisa mewujudkan pemasyarakatan bebas Halinar,” kata Denny dalam sambutan di acara seminar dan loka karya sosialisasi standar pelaksanaan tugas pemasyarakatan di ballroom A Hotel, Jalan Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu (3/10/2012.detik.com).

Jadi teringat saat perkataan kontoversial Wamenkumham ini saat menyebutkan istilah “Advokat Korup”. Bukan saja karena siulan beliau di mikro sosial ini ditanggapi miring oleh para advokat bonafide, tetapi saat wawancara di Indonesia Lawyer Club (ILC) TVone kala itu. Ia menyatakan  telah menyebarkan No Hape dan Pin BB-nya disetiap Lapas/Rutan yang dikunjunginya, bilamana ada pengaduan dari para Napi.

Begitu pula saat Denny Indrayana melakukan inspeksi mendadak (sidak) di ruang tahanan Tipikor Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 1 Makassar, Selasa (28/8/2012.tribunnews.com). Saat itu Denny langsung membagikan PIN handphone jenis Blackberrynya kepada 50 tahanan narapidana terdakwa kasus korupsi.

Pertentangan antara kebijakan dan perkataan sering sekali terjadi jika mencermati hal-hal yang dilakukan Wamenkumham yang satu ini di Kemenkumham, sehingga menimbulkan kontoversi di masyarakat. Bahkan sebahagian masyarakat awam menjadi bingung tujuh keliling.  Misalnya tentang penghapusan Remisi Koruptor, siulan di twitter tentang “Advokat Koruptor=Koruptor” sampai istilah Halinar ini. sepertinya, pekerjaan beliau ini mencari-cari istilah saja.

Sudahi saja dalam penggunaan istilah-istilah yang dapat membingungkan rakyat. Bekerja bukan berarti harus pencitraan, bekerja bukan harus popularitas. Rakyat mengetahui kalau pekerjaan Wamenkumham itu berat, maka itu rakyat mendukung dan mendoakan supaya sehat dan tetap semangat membangun Indonesia, memberantas korupsi dan semakin terlihat buah dan hasil karyanya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HIGHLIGHT

Humor Pengantin Antar Negara (Bagian-1) …

Lin Halimah | 7 jam lalu

Solusi Kenaikan BBM …

A. Jauhar Fuad | 7 jam lalu

Mari Menulis… …

Nazarnurdin | 7 jam lalu

Agung Laksono Peduli Peningkatan SDM …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

BBM Menguji Dua Kapasitas Kepemimpinan …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Kurikulum 2013, …

Iefa Waisaleh | 8 jam lalu

Charity “Care to Share” - Aiesec …

Lidya Charolina | 8 jam lalu

Pro Duta, Persikabo & Psis Pertarungan …

Pallas Athena | 8 jam lalu

Kebijakan Yang Tidak Cantik, Tapi Menarik …

Ratusiti | 8 jam lalu

Dunia adalah Halaman Terakhir Doaku …

Abdee As | 8 jam lalu

Menjaga Nyala Api Harapan Rakyat …

Ferlando Jubelito S... | 8 jam lalu

Si Cantik di Pulau Seram - Teluk Sawai …

Elvi Bandanaku | 8 jam lalu

Membumikan Fungsi Ke(polisi)an Dalam …

Muhammad Nasir | 8 jam lalu

Wacana Partai Lokal di Papua: Demokrasi atau …

Hamid Ramli | 8 jam lalu

Keterbukaan Informasi Publik di Aceh Masih …

Baihaqi | 8 jam lalu

Siapapun Presidennya, Semoga Yang …

Handarbeni Hambegja... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: