Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Konsepsi Tindak Pidana Transnasional & Kerjasama Internasional dalam Penegakan Hukumnya

OPINI | 26 September 2012 | 02:30 Dibaca: 1938   Komentar: 0   0

Oleh : Abdul Fickar Hadjar[2]
Pendahuluan
Tindak pidana transnasional merupakan salah satu bentuk kejahatan yang mengancam kehidupan sosial, ekonomi, politik, keamanan dan perdamaian dunia. Perkembangan tindak pidana transnasional ini tidak dapat dilepaskan dari perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Disamping dapat memudahkan lalu lintas manusia dari suatu tempat ke tempat lainnya, dari satu negara ke negara lain, ilmu pengetahuan dan teknologi juga menimbulkan dampak negatif berupa tumbuh, meningkat, beragam dan maraknya tindak pidana. Pada saat ini tindak pidana transnasional telah berkembang menjadi tindak pidana yang terorganisasi yang dapat dilihat dari lingkup, karakter, modus operandi, dan pelakunya.[3]
Dalam konteks Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa Menentang Tindak Pidana Transnasional Yang Terorganisasi (United Nation Convention Against Transnasional Organized Crime) tindak pidana transnasional yang terorganisasi itu dikualifikasi antara lain: (a) Tindak Pidana atas Kesertaan (partisipasi) dalam Kelompok Pelaku Tindak Pidana Terorganisasi[4], (b) Tindak Pidana atas Pencucian Hasil Tindak Pidana (termasuk, tidak terbatas pencucian uang)[5], (c) Tindak Pidana Korupsi,[6] (d) Tindak Pidana yang berkaitan dengan gangguan proses peradilan.[7]
Dalam pembahasan ini berdasarkan kesepakatan rapat Tim tanggal 11 September 2012 pengertian tindak pidana transnasional hanya akan dibatasi pada beberapa tindak pidana saja yaitu : Tindak Pidana Pencucian Uang dan Narkoba, Tindak Pidana Korupsi, dan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
Pengertian Tindak Pidana Transnasional
Menurut I Wayan Parthiana dalam bukunya : Hukum Pidana Internasional, secara teoritis ada beberapa istilah yang dikenal untuk menggambarkan perbuatan yang merupakan tindak pidana menurut hukum internasional, yaitu:
1. Tindak Pidana yang Berdimensi Internasional;
Ini untuk menggambarkan tindak pidana yang terjadi dalam wilayah suatu negara dan demikian juga akibat yang ditimbulkan juga masih terbatas di wilayah negara yang bersangkutan, tetapi dalam hal tertentu melibatkan negara lain. Misalnya pelaku melarikan diri ke negara lain atau pelakunya warga negara asing, maka dalam kasus-kasus seperti ini negara lain juga akan terlibat;
2. Tindak Pidana Transnasional;
Adalah tindak pidana yang terjadi di dalam wilayah suatu negara atau negara-negara lain, tetapi akibat yang ditimbulkannya terjadi di negara atau negara-negara lain, atau tindak pidana yang pelaku-pelakunya berada terpencar di wilayah dua negara atau lebih, dan melakukan satu atau lebih tindak pidana serta baik pelaku maupun tindak pidananya itu sendiri saling berhubungan, yang menimbulkan akibat pada satu negara atau lebih;
3. Tindak Pidana Internasional.
Yaitu tindak pidana yang menimbulkan akibat yang sangat luas tanpa mengenal batas-batas wilayah negara. Akibat dari tindakpidana tersebut membahayakan seluruh umat manusia di bumi ini. Tindak Pidana Internasional bisa saja dilakukan di dalam wilayah satu negara dan juga akibatnya hanya pada wilayah negara yang bersangkutan. Namun, karena perbuatannya berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal, tindak pidana tersebut bukan hanya menjadi masalah dari negara yang bersangkutan, melainkan juga menjadi masalah internasional.
Ketiga pembagian tersebut sesungguhnya masih dapat disederhanakan menjadi : tindak pidana internasional dan tindak pidana transnasional, dimana butir 1 dikelompokkan ke dalam tindak pidana transnasional. Ada persamaan dan ada perbedaan keduanya, persamaan tampak pada sisi praktis. Dalam praktek penegakan hukum pidana internasional perbedaan antara tindak pidana transnasional dan tindak pidana internasional tidak memiliki arti yang signifikan. Oleh karena itu, kedua bentuk tindak pidana ini membutuhkan kerjasama internasional, baik bilateral maupun multilateral, dalam penangguklangannya[8].
Berdasarkan Konvensi PBB Menentang Tindak Pidana Transnasional Yang Terorganisasi (United Nations Nations Convention Against Transnasional Organized Crime), Tindak Pidana adalah bersifat transnasional, [9] jika :
(a) dilakukan di lebih dari satu Negara;
(b) dilakukan di satu Negara namun bagian penting dari kegiatan persiapan, perencanaan, pengarahan atau kontrol terjadi di Negara lain;
(c) dilakukan di satu Negara tetapi melibatkan suatu kelompok penjahat terorganisasi yang terlibat dalam kegiatan kriminal di lebih dari satu Negara; atau
(d) dilakukan di satu Negara namun memiliki akibat utama di Negara lain.
Tindak Pidana Transnasional dalam KUHP
Mengenai tindak pidana transnasional ini, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) di Indonesia sudah mengaturnya. Hal ini terlihat dari bunyi ketentuan-ketentuan dalam beberapa pasal di dalamnya, yaitu antara lain:
Pasal 2 KUHP
Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana didalam Indonesia
Ketentuan ini selain menunjukan penganutan terhadap azas teritorialitas (wilayah) dimana hukum pidana berlaku bagi siapa saja yang melakukan tindak pidana di wilayah suatu negara tertentu dalam hal ini Indonesia, juga berarti bahwa orang yang melakukan kejahatan tidak mesti secara phisik betul-betul berada di Indonesia, tetapi deliknya (strafbaar feit) terjadi diwilayah Indonesia.[10] Demikian juga orang atau subjek hukum yang melakukannya juga tidak terbatas hanya pada warga negara Indonesia.
Pasal 3 KUHP
Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang di luar Indonesia, melakukan perbuatan pidana didalam perahu Indonesia
Demikian juga ketentuan ini selain menunjukan penganutan azas teritorialitas dimana hukum Indonesia berlaku di wilayah Indonesia termasuk diatas “perahu Indonesia” di luar Indonesia, tapi juga menunjukan bahwa keberlakuan hukum nasional juga bagi kejahatan-kejahatan yang melintasi batas negara atau transnasional.
Demikian juga ketentuan-ketentuan lainnya yang terdapat dalam KUHP, yaitu Pasal 4 KUHP[11] yang diperluas dengan Undang-undang No. 4 Tahun 1976 tentang Kejahatan Penerbangan menunjukan bahwa pengaturan tentang tindak pidana yang melintasi batas negara telah diatur sejak lama meskipun belum disebut dengan terminologi transnasional. Pasal 5 KUHP pun mengatur tentang berlakunya peraturan perundang-undangan Indonesia, bagi warga negara indonesia yang melakukan kejahatan di luar wilayah Indonesia.
Pengaturan tentang kejahatan transnational sebagaimana dimuat dalam KUHP dilandasi oleh asas-asas berlakunya hukum pidana[12], dalam hal ini 4 (empat) asas berlakunya hukum pidana nasional[13]: yaitu asas teritorial (Pasal 2 & 3), asas nasional aktif (Pasl 5), asas nasional pasif (Pasal 4 ke 1, 2 dan 4) dan asas universal (Pasal 4 ke 2 dan ke 4).
Namun demikian asas-asas berlakunya hukum pidana berdasarkan KUHP tersebut juga dibatasi pemberlakuan ketentuan hukum internasional yang telah diakui oleh pemerintah Indonesia sesuai dengan ketentuan Pasal 9 KUHP[14]. Bunyi ketentuan Pasal 9 KUHP tersebut mengandung makna yang mendalam dan luas, dalam arti bahwa, praktisi penegak hukum di Indonesia termasuk juga pembentuk undang-undang harus memahami sungguh-sungguh kekuatan hukum mengikat dari suatu perjanjian internasional yang telah diratifikasi oleh Indonesia.[15]
Demikian juga halnya, yuridiksi dalam hukum pidana Internasional, Lotika Sarker membedakannya dengan pembagian yang klasik,yaitu asas teritorial, asas nasional, dan asas perlindungan dan tidak secara khusus membahas asas universal. Bertolak dari referensi mengenai berlakunya hukum pidana dapat dikatakan bahwa, pembedaan yuridiksi ke dalam 4 (empat) lingkup tersebut termasuk pembagian yang bersifat tradisional atau konvensional.[16] Selain yuridiksi konvensional tersebut, berdasarkan doktrin maupun yurisprudensi mengenai kejahatan transnasional/internasional, juga terdapat pembedaan yuridiksi kriminal yang dilaksanakan dalam praktek hukum internasional. Cryer Frima, Robinson dan Wilmshurst, telah membedakan 3 (tiga) bentuk yuridiksi kriminal[17], yaitu: “legislative juridiction[18] (yuridiksi legislatif), “adjudicative jurisdiction[19] (yuridiksi pengadilan) dan “executive jurisdiction” (yuridiksi eksekutif)[20].
Dari rangkaian uraian diatas, bagian tulisan ini hendak mengatakan :
1. Perbedaan antara tindak pidana internasional dengan tindak pidana transnasional terletak pada unsur internasional yang tidak dimiliki tindak pidana transnasional. Unsur internasional yaitu sifat mengancam (langsung maupun tak langsung) perdamaian dan keamanan dunia atau menggoyahkan rasa kemanusiaan;
2. Suatu tindak pidana internasional belum tentu atau tidak serta merta disebut sebagai tindak pidana transnasional. Demikian juga sebaliknya tindak pidana transnasional tidak serta merta dapat disebut sebagai tindak pidana internasional;
3. Dalam keadaan tertentu tindak pidana internasional berkarakter tindak pidana transnasional jika locus delictinya terjadi di dua negara atau lebih. Demikian pun tindak pidana transnasional merupakan tindak pidana internasional karena dikualifikasi sebagai kejahatan internasional baik oleh konvensi maupun oleh hukum kebiasaan internasional.
4. Tindak pidana transnasional adalah tindak pidana yang terjadi lintas negara yang tidak mengandung unsur internasional (mengancam perdamaian & keamanan dunia atau menggoyahkan rasa kemanusiaan).
Jenis Tindak Pidana Transnasional/Internasional berdasar UNTOC
United Nations Convention Against Transnational Organized Crime (UNTOC) secara garis besar membahas dua substansi, yaitu:
a. Kaedah hukum materiil-substansial yakni kejahatan-kejahatan sebagaimana dijumpai dalam Pasal 5, 6, 8, 9 dan 23 tentang yuridiksi (Pasal 15) maupun hal-hal terkait dengan itu, antara lain tentang istilah-istilah yang digunakan (pasal 2), ruang lingkup berlakunya Konvensi (Pasal 3), prinsip perlindungan dan penghormatan atas kedaulatan negara-negara peserta atau pihak pada Konvensi (Pasal 4);
b. Kaedah hukum formal-prosedural, yakni tentang masalah-masalah prosedural penanganan perkara, yang meliputi kerjasama international antara negara-negara peserta Konvensi, seperti Ekstradisi (Pasal 16), pemindahan narapidana (pasal 17), dan kerjasama timbal balik dalam masalah pidana yang disebut juga dengan bantuan hukum timbal balik (Pasal 18) ataupun pasal-pasal lainnya yang berkenaan dengan kerjasama international.
Dari dua substansi tersebut berdasarkan ruang lingkup berlakunya UNTOC (Pasal 3) ada lima jenis tindak pidana transnasional yang terorganisasi, yaitu:
1. Berpartisipasi dalam kelompok pelaku tindak pidana terorganisasi (Pasal5);
2. Tindak pidana yang merupakan pencucian hasil tindak pidana (Pasal 6);
3. Tindak Pidana Korupsi (Pasal 8);
4. Tindak Pidana yang merupakan gangguan terhadap proses peradilan (pasal 23).
5. Tindak pidana serius (serious crime) sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 2 huruf b.[21]
Dalam konteks peraturan perundang-undangan di Indonesia, belum semua jenis tindak pidana diatur dalam UNTOC dapat dipenuhi, namun secara sporadis pengaturan hal tersebut ada pada beberapa undang-undang, antara lain:
Ad 1. Tindak Pidana atas partisipasi dalam kelompok pelaku tindak pidana terorganisasi;
Ketentuan ini mennyiratkan bagaimana seseorang atau beberapa orang melibatkan diri dalam kegiatan dari kelompok terorganisasi yang sudah ada dan diketahuinya beraktivitas melakukan tindak pidana.
Ketentuan tentang penyertaan maupun permufakatan jahat yang ada dalam perundang-undangan Indonesia, dapat dikatakan belum memenuhi kriteria tindak pidana dalam kelompok pelaku yang terorganisasi, karena:
a. Penyertaan & permufakatan jahat bukan merupakan tindak pidana[22];
b. Penyertaan & permufakatan jahat selama ini digunakan dalam hal keterlibatan orang-perorangan, bukan untuk keterlibatan seseorang dalam hubungannya dengan kelompok terorganisasi.
Pasal 169 KUHP melarang keterlibatan seseorang dalam perkumpulan yang bertujuan melakukan kejahatan. Meski ketentuan tersebut sesungguhnya telah sejalan dan memenuhi unsur semangat Pasal 5 Konvensi, namun ketentuan ini masih bersifat sangat umum dan pada prakteknya pasal 169 KUHP hampir tidak pernah digunakan lagi.
Undang-undang Narkotika (UU No.35 Th. 2009) & UU tentang Pencegahan & Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang[23] telah mengakomodasi sebagian ketentuan Pasal 5 Konvensi dalam memaknai permufakatan jahat, namun ketentuan ini hanya berlaku bagi tindak pidana narkotika, sedangkan bentuk keterlibatan lainnya belum diatur secara khusus.
Ad.2. Tindak pidana yang merupakan pencucian hasil tindak pidana;
Tindak pidana ini sudah diatur dalam undang-undang, terakhir Undang-undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, sebagai ganti undang-undang No. 15 Tahun 2002 sebagaimana diubah dengan Undang-undang No. 25 Tahun 2003.
Undang-undang No. 8 Tahun 2010 telah merumuskan perbuatan pemindahan kekayaan dengan maksud menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana sebagai tindak pidana pencucian uang. Selain telah merinci tindak pidana asal yang termasuk dalam lingkup tindak pidana pencucian uang, UU No. 8 Tahun 2010 ini juga telah memperluas pengertian tindak pidana asal sebagai tindak pidana yang diancam hukuman 4 tahun atau lebih.
UU Pencegahan & Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian uang ini secara tegas menyatakan menganut asas kriminalitas ganda (double criminality) yaitu perbuatan yang dilakukan di luar wilayah Indonesia, sepanjang dikualifikasi sebagai tindak pidana menurut hukum di negara yang besangkutan, dan menurut hukum Indonesia juga merupakan tindak pidana maka dianggap termasuk alam katagori tindak pidana asal sebagai dirinci dalam UU No. 8 Tahun 2010.
Ad.3. Tindak Pidana Korupsi
Tindak pidana korupsi telah diatur dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan undang-undang No.20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Demikian juga Undang-undang No. 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Corruption.
Ad.4. Tindak Pidana yang merupakan gangguan terhadap proses peradilan
Ada 2 (dua) bentuk perbuatan yang dipandang sebagai bentuk gangguan proses peradilan, yaitu:
a. Objek gangguannya: Saksi dan Bukti
Setiap perbuatan yang dengan sengaja menggunakan kekuatan fisik ancaman atau intimidasi atau janji,menawarkan atau memberi keuntungan yang tidak semestinya untuk membujuk, memberikan kesaksian palsu atau mencampuri dalam pemberian satu kesaksian atau pembuatan bukti dalam proses beracara.
UU No.13 Tahun 2006 tentangPerlindungan Saksi dan Korban secara khusus mengatur perlindungan saksi dan korban, tidak saja mengatur perlindungan secara fisik tapi juga perlindungan dalam bentuk pemberian keterangan kesaksian yang memungkinkan tidak perlu hadir di pengadilan.
b. Objek gangguannya Pejabat Peradilan atau Penegak Hukum
Setiap perbuatan yang dengan sengaja menggunakan kekuatan fisik ancaman atau intimidasi mencampuri pelaksanaan tugas resmi pejabat peradilan atau penegak hukum. Ketentuan ini tidak mengurangi hak negara (dalam perundang-undangan) untuk melindungi pejabat publik dalam katagori lain.
Jenis-jenis Tindak Pidana International / Transnasional, Pengaturan dan Institusi Pelaksana: yang akan menjadi pembahasan Tim Kompedium
Jenis Tindak Pidana Transnasional / Interna
Sional
Rules
——————————
Convensi- Perjanjian- UU
Law Implementing Agency
——————————–
Penyidik - Penuntut
Pencegahan&Pembran tasan Tindak Pidana Pencucian Uang
- United Nations Convention Against Transnational Organi- zed Crime (UNTOC);
-UU No. 5 Tahun 2009 tentang Pengesahan UNTOC
- UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan & Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang;
-Undang-undang No. 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian
-Peraturan Bank Indonesia No. 2/10/101/2001;
-Keputusan Menteri Keuangan No.45/KMK/06/2003 tentang Prinsif Mengenal Nasabah.
- Kepolisian - Kejaksaan
-Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK)
-Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK);
-Dirjen Imigrasi (Pasal 91-103) Cegah tangkal
-Bank Indonesia (BI);
-Menteri Keuangan;
-Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM LK), jo UU No.
Tahun 2012 tentang Otoritas Jasa Keuangan
Korupsi
-United Nations Convention Against Transnational Organized Crime (UNTOC);
-UU No. 5 tahun 2009 tentang Pengesahan UNTOC
- United Nation Convention Against Corruption (UNCAC)
- UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No.20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
- UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaran Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi Kolusi & Nepotisme.
- UU Np. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberan tasan Korupsi (KPK);
- UU No. 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.
-Kepolisian - Kejaksaan
- Kejaksaan
- Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK)
-Dirjen Imigrasi (Psl 91-103 Cegah tangkal)
Perdagangan Manusia
- United Nations Convention Against Transnational Organi zed Crime (UNTOC);
- Protocol to Prevent Suppress and Punish Trafficking in Person, Espcially Womens and Children Tahun 2000;
- UU No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan & Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Indonesia;
- UU No. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang;
- UU No. 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.
Kepolisian - Kejaksaan
-Dirjen Imigrasi (Psl 120)
(Psl 91-103 Cegah tangkal)
Tindak Pidana Narkotika
- United Nations Single Convention on Narcotic Drugs;
- United Nations Convention on Psychotropic Substances;
- United Nations Convention Against Illicit Traffic on Narcotic Drugs and Psychotropic Substances.
-UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika;
- Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997 tentang
Pengesahan United Nations Convention Against Illicit Traffic on Narcotic Drugs and Psychotropic Substances 1988
(Konvensi PBB tentang
Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan
Psikotropika, 1988);
- Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1976 tntng Pengesahan
Konvensi Tunggal Narkotika 1961 beserta Protokol Tahun
1972 yang Mengubahnya;
-UU No. 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian
Kepolisian - Kejaksaan
Banan Narkotika Nasional (BNN)
-Dirjen Imigrasi (Psl 91 – 103) Cegah tangkal.
Kerjasama Internasional Dalam Penegakan Hukum Pidana Internasional

Konsepsi Kerjasama Internasional
Dalam konteks penegakan hukum pidana internasional, kerjasama internasional merupakan sesuatu yang conditio cine qua non. Kebutuhan akan kerjasama internasional berkaitan dengan sifat tindak pidana yang terjadi tidak hanya melibatkan dua yuridiksi hukum atau lebih, juga mempunyai aspek internasional yaitu ancaman terhadap keamanan dan perdamaian dunia ataupun menggoyahkan rasa kemanusiaan. Dengan melibatkan lebih dari satu sistem hukum yang berbeda, mau tidak mau menimbulkan saling ketergantungan antar negara di dunia ini, yang kemudian mendorong dilakukannya kerjasama-kerjasama internasional yang dalam banyak hal dituangkan dalam bentuk perjanjian-perjanjian internasional. Perbedaan falsafah dan pandangan hidup dan lainnya, tidak lagi menjadi hambatan dalam melakukan hubungan dan kerjasama antar negara. Globalisasi dan kemajuan teknologi dengan ikutan positif negatifnya telah mendorong perlunya pengaturan-pengaturan yang tegas dan pasti dalam bentuk rumusan perjanjian-perjanjian. Karenanya tidaklah mengherankanjika dewasa ini dan masa-masa yang akan datang akan semakin banyak tumbuhnya perjanjian-perjanjian internasional.
Dewasa ini hukum internasional sebagaian besar terdiri dari perjanjian-perjanjian internasional. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa perjanjian internasional telah mendesak dan menggeser kedudukan dan peranan hukum kebiasaan internasional yang pada awal sejarah pertumbuhan dan perkembangan hukum internasional menduduki tempat yang utama. Tepatlah apa yang dikatakan G.I. Tunkin, bahwa secara proporsional perjanjian internasional pada masa kini menduduki tempat yang utama dalam hukum internasional sebagai akibat dari munculnya secara meluas persetujuan-persetujuan internasional.[1]
Undang-undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional mengamanatkan, bahwa dalam membuat perjanjian internasional baik dengan satu negara maupun dengan organisasi internasional atau subjek hukum internasional lainnya, wajib memperhatikan dan memenuhi:[2]
(1) harus didasarkan pada kesepakatan para pihak, dan para pihak berkewajiban untuk melaksanakan perjanjian tersebut dengan iktikad baik.
(2) harus berpedoman pada kepentingan nasional dan berdasarkan prinsip-prinsip persamaan kedudukan, saling menguntungkan, dan memperhatikan, baik hukum nasional maupun hukum internasional yang berlaku.

Kerjasama Internasional Dalam Penegakan Hukum Pidana Internasional
Mengenai kerjasama internasional dalam penegakan hukum pidana internasional pada umumnya, beberapa institusi hukum yang disebutkan dalam United Nations Convention Against Transnational Organi zed Crime (UNTOC)seperti ekstradisi (Pasal 16), pemindahan narapidana (Pasal 17), bantuan hukum timbal balik (Pasal 18), penyelidikan bersama (Pasal 19), kerjasama dalam melakukan tehnik-tehnik penyelidikan khusus(Pasal 20), pemindahan proses pidana (Pasal 21) sebenarnya sudah termasuk dalam pengertian ruang lingkup kerjasama penegakan hukum.

Pasal 27 UNTOC tentang kerjasama penegakan hukum, secara lebih khusus menekankan kerjasama penegakan hukum dalam pelbagai aspek yang lebih bersifat teknis operasional sebagaimana tercantum dalam Pasal 27 ayat 1 huruf a sampai dengan f. Hal ini sudah dilakukan oleh Indonesia, terutama oleh Kepolisian RI, baik secara langsung dengan Kepolisian negara-negara sahabat (billateral) ataupun kerjasma melalui INTERPOL/ICPO (International Criminal Police Organistion).
Persoalannya adalah, apakah setiap kerjasama antara instansi penegak hukum tersebut sudah dilandasi oleh suatu perjanjian internasional atau tidak ? Pasal 27 ayat 2 UNTOC menekankan kepada negara-negara pihak untuk membuat perjanjian internasional jika belum, atau jika sudah perjanjian tersebut diubah untuk disesuaikan.

1. Tentang Ekstradisi

Beberapa asas ektradisi dimuat dalam UNTOC, yaitu asas kejahatan ganda (double criminality- Pasal 16 ayat 1), asas tidak menyerahkan warga negara (non extradition of nations-Pasal 16 ayat 10), asas tidak menyerahlkan pelaku kejahatan politik (non extradition of political criminal – Pasal 16 ayat 14).
Selain UNTOC, ekstradisi juga diatur dalam United Nation Model Treaty on Extradition (1990) yang telah banyak dikuti oleh negara-negara lain lhususnya dalam membuat perjanjian-perjanjian maupun dalam perundang-undangan ekstradisi.
Bagi Indonesia, pelaksanaan ekstradisi didasarkan pada perjanjian bilateral sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1979 tentang Ekstradisi atau dimungkinkan pula atas dasar asas resiprositas yang dianut hukum internasional. Namun bagaimanapun UU No.1 Tahun1979 ini harus disesuaikan, karena tidak/belum memuat ketentuan-ketentuan yang mewajibkan mempercepat prosedur ektradisi dan menyederhanakan persyaratan pembuktian (Pala 8 UNTOC), tidak memuat ketentuan tidak menyerahkan warga negara (Pasal 10 UNTOC) dan tidak memuat ketentuan berlakunya hukuman terhadap WN negara yang diminta (Psl 12).
2. Tentang Pemindahan Narapidana

Tentang pemindahan narapidana UNTOC hanya menghimbau untuk membuat perjanjian bilateral atau multilateral ataupun peraturan perundang-undangan didalam negara pihak. Sebuah perjanjian internasional yang dapat dijadikan rujukan adalah :Convention on the transferof Sentenced Persons (1983)antara negara-negara Dewan Eropa (Council of Europe) dan Schengen Convention (Title III Chapter V) (1990) yang merupakan pelengkap dari Konvensi tahun 1983.
Perjanjian internasional tentang pemindahan narapidana ini dibuat dengan pertimbangan kemanusiaan, yakni memberikan kesempatan kepada narapidana (asing) yang menjalani hukuman dinegara lain untuk menjalani pidana atau sisa hukumannya di negara sendiri. Namun narapidana (asing) itu juga harus dihormati pilihannya untuk melaksanakan hukuman dinegara lain atau di negaranya sendiri.
Di Indonesia mengenai pemindahan diatur dalam UU seperti KUHAP, UU No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan atau UU No. 1 Tahun 2006 tentang Bantuan Timbalbalik dalam Masalah Pidana. Meski tidak satu pasalpun secara eksplisit mengatur pemindahan narapidana, namun semua UU itu pun tidak melarang untukmelakukan perjanjian kerjasama pemindahan narapidana seperti yang dihimbau UNTOC.

3. Tentang Bantuan Hukum Timbal Balik

Dalam hal bantuan hukum timbal balik dalam masalah pidana (mutual legal assistance in criminal matters) dalam konteks negara-negara ASEAN (Brunai Darussalam, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Pilipina, Singapore dan Vietnam) telah ditanda tangani sebuah perjanjian: “Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters” di Kuala Lumpur pada tanggal 20 Nopember 2004. Mianmar telah menjadi pihak dalamASEAN Treaty ion MLA itu pada bulan Desember 2009. Tinggal hanya Thailand yang belum menjadi pihak dalam Treaty ini.
Di dalam negeri Indonesia telah mempunyai undang-undang tersendiri, yaitu Undang-undang No. 1 tahun 2006 tentang Bantuan Hukum Timbal balik Dalam Masalah Pidana. Jika dibandingkan antar ketentuan tentang bantuan hukum timbal balik dalam masalah pidana UNTOC dengan UU No. 1 Tahun 2006 memang ada ketentuan yang sama dan ada pula kekosongan di pihak yang satu ataupun lainnya.
4. Tentang Penyelidikan Bersama

Pasal 19 UNTOC mengamanatkan kewajiban kepada negara-negara pihak untuk mempertimbangkan perjanjian billateral atau multilateral ataupun engaturan tentang subjek dari penyelidikan, penuntutan atau proses peradilan di satu atau lebih negara. Pilihan membuat atau tidak membuat perjanjian sepenuhnya menjadi hak dari negara pihak, yang jikapun ada suatu kasus, para pihak masih dapat melakukan kerjasama kasus perkasus.
Hukum Indonesia seperti UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian, UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan ataupun UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, tidak mengatur secara tegas tentang kemungkinan untuk melakukan penyelidikan bersama sebagaimana diamantkan UNTOC. Akan tetapi ketiga UU itupun tidak melarang. Dengan kata lin memberikan kemungkinan untuk melakukan erjasama internasional tersebut.
5. Tentang Kerjasama melakukan Teknik-teknik Penyelidikan Khusus

Mengenai teknik penyelidikan khusus sebagaimana diamanatkan UNTOC, dalam peraturan perundang-undangan Indonesia terutama dalam undang-undang diluar KUHP sudah banyak yang mengaturnya, seperti UU No.1 Tahun 2002 jo UU No.15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, UU No. 8 tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, UU No. 31 tahun 1999 jo UU No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, UU No. 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan UU No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Jadi tentang teknik penyelidikan khusus ini sudah dapat dijadikan dasar untuk membuat perjanjian-perjanjian internasional dalam penegakan hukum pidana transnasional.
6. Tentang Pemindahan Proses Pidana

Pemindahan proses pidana ini merupakan pemindahan orang yang diduga, disangka ataupun didakwa melakukan tindak pidana yang diatur dalam UNTOC ke negara pihak yang dipandang sebagai negara yang paling tepat dan efektif dalam melaksanakan penuntutan dan peradilannya. Tentu saja pemindahan ini sekaligus dengan barang-barang buktinya khususnya benda bergerak. Dengan demikian, proses penuntutan dan peradilannya dipusatkan pada negara pihak yang bersangkutan.
Hukum Indonesia dalam hal ini KUHAP ataupun perundang-undangan lainnya tidak mengatur masalah pemindahan proses pidana ini, Nmun Pasal 3 dan 4 UU No. 1 Tahun 2002 jo UU No. 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme secara eksplisit memungkinkan untuk dilakukan pemindahan proses pidana ini.
Daftar Pustaka:
- I Wayan Parthiana, Hukum Pidana Internasional, Yrama Widya, Bandung, 2008;
- Shinta Agustina, Hukum Pidana Internasional (Dalam Teori dan Praktek), Andalas University Press, Padang 2006;
- AZ Abidin & Andi Hamzah, Pengantar Hukum Pidana Indonesia, PT. Yasrif Watampone, Jakarta 2010;
- Jan Remeling, Hukum Pidana,Gramedia Jakarta, 2001;
- Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Gajahmada Press, 2000;
- R1 tahun 2006 tentang Bantuan Hukum Timbal Balikomli Atmasasmita, Perbandingan Hukum Pidana Kontemporer, fikahati aneska,2009;
- I Wayan Parthiana, Hukum Perjanjian Internasional 1, Mandar Maju, 2002, Bandung

Peraturan Perundang-undangan

- Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)
- United Nations Convention Against Transnational Organi zed Crime (UNTOC);
- Undang-undang No. 5 Tahun 2009 tentang Pengesahan UNTOC;
- Undang-undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan & PemberantasanTindak Pidana Pencucian Uang;
-Undang-undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika;
- Undang-undang No. 31 tahun 1999 jo. UU No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;
- Undang-undang No. 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan United Nation Convention Against Corruption;
- Undang-undang No. 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi;
- Undang-undang No. 1 Tahun 1979 tentang Ekstradisi;
- Undang-undang No. 1 Tahun 2006 tentang Bantuan Hukum Tiombal Balik;
-Undang-undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian;
-Undang-undang No. 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan TP Terorisme;


[1] Kertas kerja untuk disampaikan pada Rapat Tim Kompendium Hukum Kerjasama Internasional di Bidang Penegakan Hukum, BPHN, tanggal 25 September 2012

[2] Anggota Tim Kompedium Hukum Tentang Kerjasama Internasional di Bidang Penegakan Hukum, BPHN KemenkumHam

[3] Penjelasan Umum Undang-undang No. 5 Tahun 2009 tentang Pengesahan United Nation Convention Against Transnasional Organized Crime (Konvensi PBB Menentang Tindak Pidana Transnational yang Terorganisasi)

[4] Pasal 5 United Nation Convention Against Transnasional Organized Crime. Dalam konteks Indonesia ada beberapa tindak pidana yang sangat mungkin dilakukan secara terorganisasi diantaranya: Tindak Pidana (TP) Narkotika (UU No.35/2009), TP Pencucian Uang, TP. Terorisme, TP. Pembalakan liar / illegal Loging (UU Kehutanan), TP. Perdagangan Orang dsb.

[5] Pasal 6 United Nation Convention Against Transnasional Organized Crime, Untuk tindak pidana pencucian hasil kejahatan, Indonesia sendiri telah mempunyai Undang-undang tentang Tindak Pidana Pencucian Uang ( UU No 15 Tahun 2002 diubah UU No.25/2003) terakhir diganti dengan Undang-undang No. 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, dimana UU ini juga memberikan kewenangan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerapkannya.

[6] Pasal 8 United Nation Convention Against Transnasional Organized Crime. Untuk tindak pidana Korupsi, Indonesia telah mempunyai Undang-undang No. 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No.20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

[7] Pasal 23 United Nation Convention Against Transnasional Organized Crime. Dalam konteks gangguan terhadap proses peradilan utamanya yang berkaitan dengan ancaman dan intimidasi terhadap saksi-saksi, Indonesia telah mempunyai UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

[8] Shinta Agustina,Hukum Pidana Internasional (Dalam Teori dan Praktek), Andalas University Press, Padang, 2006, hal 56

[9] Pasal 3 ayat 2 United Nation Convention Against Transnasional Organized Crime

[10] AZ Abidin & Andi Hamzah, Pengantar Hukum Pidana Indonesia, PT. Yarsif Watampone Jakarta, 2010, hal 84;

[11] Pasal 4 ke1 KUHP mengenai orang Indonesia yang berada di luar wilayah Indonesia melakukan tindak pidana terhadap keamanan negara yang tersebut dalam pasal 104, 106, 107, 108,111, 127 dan 131 KUHP; Pasal 4 ke 2 mengenai orang Indonesia yang berada di luar wilayah Indonesia melakukan kejahatan tentang mata uang, uang kertas negara atau uang kertas Bank tentang materi atau merek yang dikeluarkan atau digunakan oleh Pemerintah Indonesia; Pasal 4 ke 3 mengenai orang Indonesia yang melakuakn pemalsuan surat utang atau sertifikat-sertifikat utang yang ditanggung Pemerintah Indonesia.

[12] Jan Remeling dalam “Hukum Pidana” Gramedia Jakarta halaman 355-389 menggunakan istilah berlakunya hukum pidana dengan “Keberlakuan hukum pidana” yang dibedakan dalam 2 hal yaitu, keberlakuan yang terkait dengan waktu tindak pidana (tempus delicti) dan keberlakuan yang terkait dengan tempat terjadinya tindak pidana (locus delicti).

[13] Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, 1987, hal 38-53.

[14] Pasal 9 KUHP berbunyi :Berlakunya Pasal 2 s/d 5, 7dan 8 dibatasi oleh pengecualian-pengecualian yang diakui oleh hukum internasional.

[15] Romli Atmasasmita, Perbandingan Hukum Pidana Kontemporer, fikahati aneska, 2009, hal 114.

[16] Romli Atmasasmita, ibid hal 116.

[17] Robert Cryer, Hakan Riman,Darryl Robinson, Elizabeth Wilmshurst, “An Introduction to International Criminal Law and Procedur,Cambridge University Press: 2007 hal 37-39 (dikutip dari Romli Atmasasmita, Perbandingan Hukum Pidana Kontemporer Hal 116)

[18]Yuridiksi Legislatif adalah wewenang badan legislatif untuk menentukan/mengatur pemberlakuan suatu undang-undang keluar batas teritorial dari negara yang bersangkutan. Sebagai contoh pemberlakuan UU Pemberantasan Terorisme Indonesia (2003) khusus ketentuan mengenai penyertaan dan pembantuan. Undang-undang; Pencegahan & Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Indonesia (2010) yang memberlakukan ketentuan yang sama.

[19]Yuridikasi Pengadilan adalah putusan pengadilan terhadap kasus-kasus kejahatan transnasional atau kejahatan internasional seperti: penangkapan &penahanan Adolf Eichman atas perintah Jaksa Agung Israel, penagkapan & penahanan Noriega oleh DEA Amerika Serikat, dan penangkapan & penahanan pinochet atas perintah pengadilan Inggris.

[20] Yuridiksi Eksekutif adalah kebijakan eksekutif (Presiden) untuk memerintahkan penangkapan dan penahanan seseorang pelaku kejahatan yang merupakan ancaman terhadap keamanan & kedaulatan suatu negara. Yuridiksi ini model pendekatan baru yang progresif/agresif, dan dilaksanakan atas perintah lembaga eksekutif yang kemudian dituntut dan diadili di negara yang memiliki yuridiksi atas kejahatan pelaku ybs. Model ini terjadi dalam penangkapan pelaku terorisme secara luas yang dilakukan Amerika Serikat dan ditempatkan di camp tahanan Guantanamo tanpa diadili, penyerahan Hambali kepada Amerika Serikat oleh Pemerintah Kerajaan Thailand. Pembentukan peradilan Nuremberg, disusul dengan pembentukan Mahkamah Adhoc di Rwanda dan bekas jajahan Yugoslavia.

[21] Pasal 2 huruf b UNTOC : Tindak pidana serius berarti tindakan yang berarti suatu tindak pidana yang dapat dihukum dengan maksimum penghilangan kemerdekaan paling kurang empat tahun atau sanksi yang lebih berat.

[22] Diatur dalam Bab V (Psl 55 s/d Psl 62) KUHP tentang penyertaan (deelneming) dan Pasal 88 KUHP tentang permufakatan jahat serta dalam perundang-undangan pidana lainnya seperti UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dll.

[23] Pasal 10 UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan & Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang : Setiap Orang yang berada di dalam atau di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang turut serta melakukan percobaan, pembantuan, atau Permufakatan Jahat untuk melakukan tindak pidana Pencucian Uang dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5.

-

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 5 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 6 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 7 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 9 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: