Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Hany Ferdinando

Hany tinggal di Surabaya bersama istri dan dua orang anak

Pasal Karet pada pasal 310 ayat (2), (3), dan (4) UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

OPINI | 14 September 2012 | 03:42 Dibaca: 5061   Komentar: 4   1

sumber: http://4.bp.blogspot.com/-08Rw9LrYt3w/T3MxQrEfMCI/AAAAAAAAAKk/2kuKVZzjHGY/s1600/Hukum+dan+Keadilan.gif

sumber: http://4.bp.blogspot.com/-08Rw9LrYt3w/T3MxQrEfMCI/AAAAAAAAAKk/2kuKVZzjHGY/s1600/Hukum+dan+Keadilan.gif

Jika Anda adalah pengendar sepeda motor, maka Anda harus berhati-hati. Jika Anda adalah pengendara mobil, maka Anda harus lebih berhati-hati. Jika Anda pengendara kendaraan yang lebih besar lagi, maka Anda harus ekstra hati-hati…. Mengapa?

Pasal 310 ayat (2), (3), dan (4) UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bisa menjadi pasal karet yang membahayakan Anda. Tidak percaya?

Kasus 1

Anda mengendari motor dengan kecepatan 10-20 km/jam di sebuah jalan kecil. Tiba-tiba seorang anak balita keluar dari sebuah rumah dan berlair di tepat di hadapan Anda. Karena kejadian itu begitu cepat, Anda tidak sempat mengerem laju kendaraan dan anak itu tertabrak.

Saat itu, jika Anda melarikan diri, sudah pasti Anda jadi bulan-bulanan warga di sekitar situ. Jika Anda tidak melarikan diri, Anda mungkin masih kena pukul-pukul sedikit karena ketidakmampuan masyarakat kita untuk menguasai emosi. Mana yang Anda pilih?

Menurut pasal 310 ayat 2, Anda akan dikenai denda 2 juta rupiah atau kurungan maksimal 1 tahun. Wow! Sebagian besar orang memilih untuk berdamai dengan cara memberikan pengobatan atau cara lain.

Pertanyaannya adalah siapakah yang bersalah dalam kasus ini? Warga biasanya langsung menuduh Anda tidak berhati-hati saat berkendara. Susah juga sih, menyalahkan anak balita yang belum tahu bahaya di jalan… Tetapi UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan jelas mengatakan bahwa Anda bersalah!

Kasus 2

Seperti kasus 1, tetapi Anda berhasil mengerem kendaraan sehingga anak balita itu selamat. Permasalahannya adalah motor Anda tertabrak oleh mobil yang tidak sempat mengerem.

Berdasarkan UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pasal 310 ayat 2, mobil yang menabrak Anda dinyatakan bersalah. Mungkin saja, pengendara mobil itu akan mengatakan bahwa Anda mengerem terlalu mendadak sehingga ia tidak sempat mengerem walaupun melaju dengan kecepatan yang hampir sama dengan Anda. Anda tentu akan membela diri dengan mengatakan bahwa ada anak balita yang tiba-tiba ‘nyelonong’. Jadi, apakah Anda berdua bisa menyalahkan anak balita itu? Jika itu yang Anda lakukan, maka Anda akan berhadapan dengan orang tuanya yang tidak bisa menerima tuduhan itu.

Oleh karena Anda pengendara motor, maka warga biasanya akan langsung menyalahkan pengemudi mobil. Kelanjutan dari kasus ini bisa diteruskan sendiri.

Kasus 3

Anda mengendari mobil di sebuah jalan besar yang sangat ramai. Tiba-tiba ada orang yang menyeberangi jalan itu bukan di zebra cross dan Anda tidak sempat mengerem mobil. Akibatnya, orang itu tertabrak dan terluka parah. Mau lari? Habislah Anda! Mau keluar? Habislah Anda!

Anda akan dituduh tidak mengendarai mobil dengan baik sehingga menabrak orang. Ups! Sebuah label yang langsung disarangkan kepada Anda.

Bukankah Anda bisa menuntut orang yang menyeberang sembarangan itu? Bisa, tetapi kondisi di Indonesia tidak memungkinkan. Anda akan ditertawakan orang karena hal itu. Ya… secara fakta, orang ini bersalah dan ia harus menanggung akibatnya sendiri, tetapi Anda yang harus menanggung akibatnya.

Hal yang sama juga bisa terjadi saat ada motor yang tiba-tiba memotong jalan Anda yang sedang mengendarai mobil. Ia tertabrak dan luka parah. Siapa yang akan disalahkan? Anda yang akan dijadikan sasaran empuk untuk ‘diperas’.

Kasus-kasus semacam itu bisa ditambah sendiri, tetapi intinya adalah UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan di Indonesia langsung menyalahkan kendaraan yang lebih besar tanpa mau tahu duduk perkaranya. Selain itu, UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan di Indonesia langsung menyalahkan pemilik kendaraan yang lebih mahal tanpa tahu duduk perkaranya.

Kesimpulannya, sebenarnya pernyataan bahwa semua orang sama di hadapan hukum dan UU perlu direvisi.

Bagaimana pengalaman dan pendapat Anda?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 12 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 13 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 14 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 14 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: