Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Hsu

Somewhere Only We Know

Kasus Narkoba: Banding atau Tidak?

OPINI | 08 September 2012 | 00:05 Dibaca: 1089   Komentar: 18   9

Tulisan ini saya buat berdasarkan sebuah artikel yang posting pada 07 September 2012 oleh seorang kompasianer yang membahas mengenai kejamnya narkoba di pengadilan. Apa yang saya coba uraikan ini adalah berdasarkan pengamatan saya selama beberapa tahun pada banyak kasus narkoba mulai dari sejak UU No.22/1997 (tentang narkotika), UU No.05/1997 (tentang psikotropika) dan Yang terbaru yaitu UU No.35/2009 (tentang narkotika dan psikotropika). Jadi tulisan ini saya buat berdasarkan apa yang pernah saya temukan di lapangan.

Seorang terpidana setelah mendapatkan putusan pengadilan maka dapat melakukan proses hukum atas putusan tersebut mulai dari banding sampai dengan Kasasi, Peninjauan Kembali dan bahkan Grasi. Proses hukum ini pun tentunya berlaku juga bagi terpidana kasus narkoba.

Jika ada keluarga atau sanak saudara anda yang tersangkut kasus narkoba dan telah mendapatkan putusan pengadilan yang tetap saya sarankan jangan melakukan proses banding! Kecuali mempunyai uang yang tidak berseri. Karena berdasarkan pengamatan saya pada banyak kasus narkoba yang saya ambil secara acak, rata-rata yang melakukan banding mendapatkan penolakan dan bahkan ada yang bukannya mendapatkan pengurangan hukuman melainkan malah mendapatkan kenaikan hukuman atas proses banding yang dilakukannya.

Jangan Banding Kecuali Uang anda tidak berseri bukan dimaksudkan sebagai sebuah tuduhan ataupun untuk mendiskreditkan pihak mana pun. Pernyataan seperti ini pun saya dapatkan dari banyak narapidana yang tersangkut kasus narkoba. Tahu sama Tempe bisa saja jadi Oncom. wkwkwkwk dipenjara ada pepatah “tembok bisa bicara”.

Pasal-pasal yang umum digunakan untuk menjerat pelaku tindak pidana khusus narkotika saat ini yaitu:

  1. Pasal 111 UU No.35/2009: Memiliki Narkotika Golongan 1 dalam bentuk tanaman, pelanggaran terhadap pasal ini biasanya pada umumnya mendapatkan vonis 4 tahun dengan tambahan denda dan subsider.
  2. Pasal 112 UU No.35/2009: Memiliki Narkotika Golongan 1 dalam bentuk bukan tanaman, idem point 1, biasanya vonis 4 tahun dengan denda dan subsider
  3. Pasal 113 UU No.35/2009: Produsen atau Importir Narkotika, pelanggaran terhadap pasal ini biasanya divonis lebih dari 4 tahun dan bahkan bisa sampai 18 tahun, seumur hidup, dan juga hukuman mati. Vonis biasanya disertai dengan denda dan subsider
  4. Pasal 114 UU No.35/2009: Perantara dan Pengedar, idem point 3
  5. Pasal 127 UU No.35/2009: Pengguna/pemakai narkotika bagi dirinya sendiri, biasanya vonis di bawah 4 tahun, tanpa denda dan tanpa subsider. Khusus pasal 127 ini seharusnya menjalankan rehabilitasi dan bukan di dalam lapas, namun beberapa yang terkena pasal ini pun ternyata ada yang menjalani pidana di dalam lapas dan bukan di tempat rehab. Mohon maaf jika sedikit saya sentil dan katakan bahwa sekali lagi uang tidak berseri yang berbicara.

Pelanggaran terhadap pasal-pasal tersebut yang banyak saya temukan selama pengamatan yang saya lakukan. Narkotika dan Psikotropika sendiri adalah termasuk ke dalam kategori pidana khusus yang terkait dengan PP No.28/2006, di mana si terpidana yang sudah mendapatkan putusan pengadilan sekian tahun potong masa tahanan, harus menjalani 1/3 masa pidana terlebih dahulu baru kemudian bisa mendapatkan haknya atas remisi, dan program percepatan lainnya termasuk pembebasan bersyarat. Namun tidak untuk asimilasi di luar rutan/lapas.

Begitu si terpidana masuk ke dalam Lapas, maka dimulailah kehidupan sebagai narapidana. Banyak ragam dan pilihan yang dapat dilakukan oleh terpidana jika sudah di dalam rutan/lapas, apakah menjadi anak manis dan terus menerus disupply kebutuhannya oleh sanak keluarga dari luar, apakah semakin menjadi-jadi dalam arti semakin terjerumus, apakah mawas dan sadar diri dan berusaha sebaik mungkin menjadi kreatif dan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di dalam lapas. Hidup sebagai narapidana pun mempunyai pilihan.

Rutan dan Lapas memiliki situasi dan kondisi yang berbeda, bagi yang masih menjalankan sesuatu yang menggiurkan biasanya akan cenderung bertahan di dalam rutan karena banyak kepentingan yang membuat si terpidana merogoh koceknya untuk tetap berada di rutan (all about the money). Banyak sekali kernak-kernik biaya pungutan liar kepada tahanan dan napi di dalam rutan mulai dari biaya kamar lah, biaya lapak lah, biaya meja kunjungan lah dan lain-lain yang bisa bikin stress berat. Sedangkan di Lapas lebih bersahabat bagi napi-napi yang ingin benar-benar menjalani sisa hukuman dengan tenang walaupun masih ada sedikit biaya-biaya liar namun sudah tidak terlalu mencekik seperti di rutan.

Sebagai contoh, jika ingin belajar mandiri, bagi yang bisa melakukan pijat/urut maka dapat sedikit saya bocorkan bahwa banyak napi yang bisa mengirimkan uang ke luar untuk keluarganya dari hasil menjadi napi tukang urut atau pijat di dalam lapas. Urut dan pijat di sini tentunya adalah bukan dalam arti memuaskan lawan sejenis, melainkan benar-benar pijat urut untuk lelah dan kesehatan. Mengapa bisa mengirimkan uang ke luar dari hasil menjadi tukang urut di dalam lapas? Sedikit bocoran bahwa kegiatan ekonomi pun berlangsung di dalam lapas, baik yang legal maupun yang illegal.

Seorang terpidana kasus narkoba, jika tidak ingin semakin terjerumus lebih dalam, sebaiknya banyak menahan diri dan tidak ikut-ikutan yang lain yang masih saja bandel baik itu menggunakan maupun mengedarkan di dalam lapas/rutan. Lebih baik mencari dan mengikuti kegiatan-kegiatan positif yang banyak diprogramkan seperti pesantren dan kegiatan ibadah masing-masing agama, kegiatan olah raga, kesenian, kerajinan, dan atau pertanian dan lainnya yang positif.

Jika sudah melewati 1/3 masa pidana, maka remisi akan didapatkan dan juga merupakan tahap untuk dapat mengajukan program percepatan seperti pembebasan bersyarat. Memasuki masa-masa rentan, di mana sedikit saja terjadi pelanggaran dan mengakibatkan si napi bisa tercatat di buku register F, maka bukan saja remisi yang ditangguhkan selama setahun melainkan juga penundaan dan bahkan hilangnya kesempatan untuk pembebasan bersyarat. Dan yang lebih buruk lagi, bisa kemungkinan dipindahkan ke Lapas lain yang jauh dari mana-mana seperti ke Nusakambangan dan menjadi jauh dengan keluarga.

Peran keluarga menjadi lebih penting dari sekedar rehabilitasi bagi kasus narkoba, dorongan semangat dari orang-orang terdekat akan lebih membantu si terpidana untuk menjauhkan diri dan melupakan narkoba. Narkoba  adalah sangat berbahaya dan sangat merusak sendi-sendi kehidupan.

Jika terjerumus dan tersangkut serta menjadi terpidana narkoba saya sekali lagi menyarankan jangan banding, terima saja putusannya dan lebih bijak untuk memilih program percepatan yang ada di dalam rutan atau lapas. Saran ini adalah karena faktor biaya. Biaya yang sebenarnya 0% namun menjadi tak terduga dan ada begitu anda menghadapi realita di lapangan.

Saran ini bukan berarti anda harus mengikuti jika ada sanak saudara yang tersangkut kasus narkoba dan jika ingin melakukan proses hukum seperti banding dan sampai kasasi atau peninjauan kembali ya silakan dan jalankan. Semua kembali kepada pilihan masing-masing. Saya hanya sedikit mengungkap realita yang terjadi di lapangan.

Sebagai contoh, pernah ada seorang warga negara asing dari Afrika yang diputus pengadilan negeri seumur hidup atas pidana narkotika yang dilakukannya. Kemudian si WNA ini melakukan banding dan begitu putusan banding keluar dari kejaksaan tinggi… hasilnya malah mencong/melenceng dari dugaannya. Putusan Banding yang dilakukannya malah mengubah hukumannya dari Seumur Hidup menjadi Terpidana Mati. Mencong. Serem. Atau jangan-jangan mencong dan naiknya hukuman ini karena kurang sawerannya wkwkwkwk. Hanya menduga.

Sayangi diri anda dan katakan tidak pada narkoba.

Bagi yang pernah terjerumus, janganlah patah semangat, perbaiki diri demi diri sendiri untuk kemudian bagi orang lain.

Bagi yang masih dan sedang terjerumus, Berusahalah sekuat dan semampumu untuk lepas dari jerat narkoba, dekatkan diri pada Yang Kuasa. Saya bantu doa dan dorongan semangat agar dapat segera terlepas dari jerat narkoba.

Selamat Pagi

Su He

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Olahraga Sebagai Industri dan Sarana …

Erwin Ricardo Silal... | | 31 July 2014 | 08:46

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Rasa Takut, Cinta, Naluri dan Obsesi …

Ryu Kiseki | | 31 July 2014 | 03:42

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 13 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 15 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 17 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 19 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: