Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Yusuf Daud

komunitas penulis independen Aceh

Manipulasi Sejarah Aceh oleh Wali Nanggroe

OPINI | 25 July 2012 | 15:23 Dibaca: 6110   Komentar: 3   2

13431862421164775531
http://www.flickr.com/photos/yusufdaud/7641317082/

Wali Nanggroe, Paduka Yang Mulia Muhammad Hasan Tjik di Tiro, nama ini begitu akrab bagi sebagian besar masyarakat Aceh. Bagi orang Aceh, nama Hasan Tiro berasal dari kaum terhormat, ibarat raja yang sangat dicintai oleh rakyatnya, hingga kepergiannya pun untuk berpulang ke Rahmatullah diantar oleh ribuan rakyat Aceh dan ditangisi oleh jutaan lainnya. Sementara itu, rekan seperjuangan almarhum yang saat ini menjabat sebagai Pemangku Wali, Malik Mahmud juga dianggap sebagai figur bersih dan berwibawa yang membawa kedamaian bagi rakyat Aceh atas kepemimpinan dan tauladannya. Tapi benarkah demikian kenyataannya? Bagaimana jika itu semua adalah bualan semata dengan cara memanipulasi sejarah dan merekayasa keadaan supaya berpihak kepada keuntungan pribadi? History, bisa berarti HIS STORY.


SYAHDAN, adalah seorang “sultan” yang hendak memegang tampuk kepemimpinan di Aceh, dengan nama monarkis yang terlampau panjang: Al Mudzabbir Al Maulana Al Malik Al Mubin Profesor Doktor Sultan Di Tiro Muhammad Hasan Ibnal Sultan Maat di Tiro. Memang panjang gelarnya itu. Sepanjang riwayat bualannya dari Swedia dan perjalanan sejarah Aceh yang bersimbah darah akibat ulah Sultan “jadi-jadian” ini.

Nama berbaris-baris itu terdengar jumawa. Anehnya, Hasan mengangkat anak tunggalnya, Karim Tiro, sebagai putra mahkota untuk menggantikan posisinya sebagai “raja” Aceh. Cara yang feodalistis dan dinastik ini sangat bertentangan dengan sikap masyarakat Aceh yang egaliter dan demokratis. Manipulasi sejarah ini ditetapkan Hasan Tiro yang menjadi landasan pengukuhan dirinya sendiri sebagai wali nanggroe dan rekan sejawatnya Malik Mahmud sebagai Pemangku Wali dalam rapat rahasia sigom donya di Stavanger Norwegia. Lucunya lagi, rapat tersebut dijadikan landasan oleh DPRA yang memang sebagian besar merupakan kader yang berasal dari Partai eks kombatan GAM, Partai Aceh. Klop sudah kebohongan dan bualan yang diundangkan.

Fakta Sejarah

Semasa hidupnya, Hasan Tiro sering mengaku sebagai keturunan ulama Di Tiro, bahkan berani mengklaim dirinya sebagai pewaris tunggal Teungku Chik Di Tiro. Padahal, menurut catatan sejarah, ahli waris Teungku Chik Di Tiro (dari garis keturunan laki-laki) berakhir pada 5 September 1910. Yakni, setelah wafatnya Teungku Chik Mayet di Tiro yang gugur membela Indonesia melawan Belanda. Bukan seperti Hasan Muhammad Tanjong Bungong yang lari ke luar negeri diuber-uber tentara republik. Lelaki bertubuh kurus pendek ini lahir di Tanjong Bungong, Lamlo, Pidie, sebagai putra kedua Leubee Muhammad Tanjong Bungong, pada 1923. Tidak sebuah riwayat pun yang menukilkan ayahnya, Leubee Muhammad, sebagai seorang ulama maupun berdarah biru. Juga tidak ada pertautan dengan Teungku Chik Di Tiro. Hasan lahir sebagai anak petani.

Hasan Tiro= Hasan Leubee Muhammad Tanjong Bungong

Jika merunut garis keturunan, maka Hasan mesti menyebut nama lengkapnya Hasan Leubee Muhammad Tanjong Bungong, bukan Hasan Tiro, konon katanya pula sultan Aceh. Bahkan ada sumber yang menyebutkan bahwa sesungguhnya ia juga keturunan Jawa-Banten. Aneh dan lucu bukan? Jika semasa hidupnya ia menjadikan kebodohan dan kekurangan orang Jawa sebagai bagian dari propaganda negatif yang selama ini ditebar di Aceh hingga membuat orang Aceh percaya sebuah kebohongan daripada kebenaran dan fakta. Ibarat menjilat ludanya sendiri, Hasan Tiro semasa hidupnya telah menyebarkan kebencian demi keuntungan pribadinya sendiri

Sekarang, Hasan Tiro telah wafat, ketika rakyat Aceh telah terlanjur memercayai segala hal yang menjadi rekayasa politik demi keuntungan pribadinya semata. Sejarah yang dalam bahasa inggris adalah History yang saya plesetkan dalam kasus ini menjadi HIS STORY( ceritanya=bualannya). Bualan Hasan Tiro yang berhasil menempatkan dirinya pada posisi yang begitu terhormat di mata rakyat Aceh. Setelah Hasan Tiro tiada, masihkah bualan dan kebohongan ini berlanjut? Mungkin masih, karena Pemangku Wali, Malik Mahmud Al Haytar sangat mungkin menjadi suksesor manipulasi sejarah Aceh, entah sampai kapan.

Yusuf Daud

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Manusia Api …

Nanang Diyanto | | 19 September 2014 | 17:32

“Kita Nikah Yuk” Ternyata …

Samandayu | | 19 September 2014 | 08:02

Masa sih Pak Jokowi Rapat Kementrian Rp 18 T …

Ilyani Sudardjat | | 19 September 2014 | 12:41

Seram tapi Keren, Makam Belanda di Kebun …

Mawan Sidarta | | 19 September 2014 | 11:04

Dicari: “Host” untuk …

Kompasiana | | 12 September 2014 | 16:01


TRENDING ARTICLES

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Ahok Rugi Tinggalkan Gerindra! …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Ahok Siap Mundur dari DKI …

Axtea 99 | 17 jam lalu

Surat untuk Gita Gutawa …

Sujanarko | 20 jam lalu


HIGHLIGHT

Ini Dia ‘God Of Gamblers’ Dunia …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Ahok, Sang Problem Solving …

Win Winarto | 7 jam lalu

Sudut Korner Senja Pelipur Lara …

Ishadi Ishak | 7 jam lalu

Rupiah Dipermainkan? …

Heno Bharata | 7 jam lalu

“Evan Dimas dan Paolo Sitanggang di Atas …

Leonardi | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: