Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Adi Pranata

petualang dan pembela kebenaran yang kebetulan lewat

Panasnya “Perang” Ormas di Pulau Dewata

HL | 05 July 2012 | 14:28 Dibaca: 16308   Komentar: 7   0

1341471765876291215

Ilustrasi/ Admin (shutterstock.com)

Bali adalah pulau yang begitu indah, masyarakatnya penuh dengan keramahan yang sudah terkenal seantero dunia.  Bahkan pulau kecil ini lebih dikenal dibandingkan Republik Indonesia. Orang eropa selalu bertanya Indonesia itu dimananya Bali? Padahal bali adalah bagian dari Indonesia. Pulau indah ini memang membuat para penikmatnya ingin selalu menikmatinya kembali.  Keramahan keluarga-keluarga di Bali membuat masyarakat pulau dewata ini dikenal sebagai masyarakat teramah.

Namun dalam perkembangannya ada beberapa sisi lain di pulau seribu pura ini.  Dalam perjalanan ke utara banyak sekali terlihat Baliho-baliho yang menunjukan identitas ormas-ormas kepemudaan di Bali. Dari sekedar mengucapkan selamat hari raya ataupun hanya sekedar memperlihatkan logo-logo mereka.  Hampir di setiap wilayah. Diantara mereka, Laskar Bali tampak menjadi kelompok yang paling mendominasi. Baliho banyak menampilkan sosok pemimpin-pemimpinnya yang rata-rata merupakan pria gempal dengan wajah sangar.

Inilah, konon, para penjaga Bali dari segala ancaman luar. Merekalah, konon, para penjaga ajeg Bali. Seperti banyak ormas-ormas kedaerahan lain, mereka berkumpul dengan pernyataan misi nan mulia, menjaga ‘kemurnian’ tanah kelahirannya dari pengaruh luar yang menggerus. Andai memang begitulah adanya seperti visi dan misi mereka maka akan sangatlah aman pulau dewata ini.

Namun kenyataanya memberikan gambar yang suram. Laskar Bali tergambarkan sebagai kumpulan preman dengan afiliasi yang kuat dan cengkeraman yang kukuh di sisi gelap pulau dewata. Kelompok yang disinyalir terlibat dalam jaringan prostitusi, obat terlarang, termasuk perang antar gang di Bali. Kelompok yang mendominasi ‘penjagaan’ keamanan di klub-klub malam Bali. Artikel-artikel di The Sidney Morning Herald beberapa kali menyebut Laskar Bali sebagai “one of the most notorious gangs in Bali”. Majalah Tempo memberi judul “Puputan Preman Pulau Dewata’ dalam artikel yang menggambarkan perseteruan antar kelompok pemuda di Bali. Dan serangkaian pemberitaan negatif lainnya. Diantara Bali yang semakin hiruk pikuk.

Selain Laskar Bali ada beberapa ormas kepemudaan lain yang mendominasi. Seperti Baladika yang saat ini sering sekali anggotanya betrok dengan Laskar Bali. Jika dilihat dominasi anggota, maka Laskar Bali dan Baladika merupak 2 ormas dengan jumlah anggota terbanyak saat ini. Sisa nya ada Ormas Pemuda Bali Bersatu,dan Forum Peduli Bali yang anehnya semua ormas ini diresmikan oleh pejabat-pejabat daerah penting di bali.

Laskar bali dengan ketuanya gung alit, terkenal dekat dengan pejabat-pejabat militer, sperti yang ditulis oleh penelitian Wayan Suryawan, dosen antropologi Universitas Udayana, yang dimuat situs sekitarkita.com. Menurut dia, setelah perkelahian di Denpasar Moon Karaoke, 30 November 2003, yang menewaskan seorang polisi, Gung Alit sempat ditahan sebagai tersangka. Lucunya, para tersangka dijenguk oleh petinggi militer di sana. “Sangat ramai dan penuh canda tawa,” kata Wayan.

Begitu juga Baladika, yang anggotanya di dominasi oleh anak-anak muda ini merupakan kelompok yang sangat dekat dengan kalangan DPRD, dan pejabat pemerintahan daerah. Hal ini bisa dimaklumi karena para pejabat-pejabat itu ingin tetap memiliki dukungan kuat dan bisa digunakan sebagai senjata melibas musuh-musuhnya.

Kekuatan ormas-ormas ini memang semakin mencekram Bali, banyak anggota Ormas-ormas ini terkadang bersikap arogan, dengan menjadi preman bayaran yang meresahkan masyarakat bali.

Ormas yang bermunculan di Bali tentu bukan tanpa sebab, bali yang berubah menjadi destinasi pariwisata membuat banyak sekali tempat-tempat hiburan, tentu saja pusatnya di Kuta, daerah hiburan malam di Pulau dewata. Kuta bagaikan gadis cantik bagi para pencari nafkah di pulau ini, banyak jasa yang dapat diberikan untuk menghasilkan dolar di tempat  itu. Termasuk jasa keamanan yang kemudian di organisasi oleh Ormas-ormas ini. Ini mengapa Ormas-ormas di Bali semakin menjamur, mendirikan ormas bagaikan mendirikan perusahaan jasa yang menjanjikan, bahkan bisa menjadi kendaraan politik suatu saat nanti. Akhir-akhir ini pun muncul kelompok karangasem yang anggotanya tentu saja dari darerah karangasem. Kelompok-kelompok ini mulai menguasai beberapa tempat hiburan di kuta. Semakin berkembang hal-hal ini jika tidak terkontrol ditakutkan bisa membuat perpecahan di masyarakat, perkembangan kedepan ditakutkan ormas-ormas ini berubah menjadi gangster seperti mafia-mafia yang lama kelamaan akan susah diatur seperti halnya mexsiko.

Impian masyarakat bali terhadap ormas-ormas ini bisa dirangkum dari beberapa hasil diskusi yang penulis lakukan dengan beberapa kalangan :

Masyarakat bali memimpikan Ormas-ormas itu bisa menjadi pengayom dan benteng ajeg Bali. ingin rasanya masyarakat melihat Laskar Bali, Baladika, Kelompok Karangasem, Pemuda Bali Besatu, Forum Peduli Bali, Banzer, Satria Muda Majapahit, dan Garda Buleleng menjadi ormas yang santun. Tampang boleh sangar tapi sikap santun, itu lah cirri masyarakat Bali.

Ormas-ormas ini diharapkan bisa merubah diri, dengan menjadi ormas yang berdasar kepada kepentingan masyarakat bukannya kepada kepentingan beberapa kelompok penguasa saja. Tentu saja hal ini harus dilakukan tegas oleh para pentolan ormas tersebut. Harus ada struktur organisasi yang kuat dengan AD/ART yang demokrasi. Jika dilihat saat ini ormas-ormas itu saat ini bersifat sangat tradisional, lihat saja ketua ormas-ormas itu semua 4L (Lo Lagi Lo Lagi) tanpa ada kaderisasi. Hal ini tentu saja akan membuat sikap otoriter.

Ormas-ormas di Bali harusnya bersatu, bukan saling menghancurkan, Ormas di Bali jangan hanya mengunakan logo kedewaan namun sikap seperti preman. Harusnya ormas di Bali bisa mengambil sikap dari ajaran agama hindu yang penuh dengan kedamaian.

Ormas di Bali harus menjadi benteng dari hal-hal negative, seperti premanisme, Narkoba dan sikap kekerasan  lainya. Bukanya malah melindunginya seperti yang terjadi saat ini.

Semoga bali tetap menjadi pulau dengan sejuta kedamaian, dengan senyuman keluarga-keluarga yang saling menyanyagi.

NB :

Penulis ingin mengaris bawahi, walaupun beberapa Ormas di Bali semakin meresahkan namun sampai saat ini bali adalah tempat yang sangat aman. Ormas-ormas diatas juga punya sikap di sisi lain yang ingin melindugi Bali. kekerasan selama ini terjadi kebanyakan kasusnya antara ormas dengan ormas lainya. Namun tidak sama seperti halnya preman jakarta, preman yang terorganisasi oleh ormas melakukan pemalakan dan pemerasan. Namun tentu saja jika tidak dari sekarang mulai dirubah, bukan tidak mungkin akan menjadi seperti itu juga ormas-ormas di Bali.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jalan-Jalan Cantik ke Jepang ala Beauty …

Wardah Fajri | | 18 September 2014 | 10:16

Bapak Diberi Tenggang Tiga Kali 24 Jam untuk …

Posma Siahaan | | 18 September 2014 | 06:03

Bima Arya Sukses Menghijaukan Jalanan Kota …

Masykur A. Baddal | | 18 September 2014 | 07:20

HL Bukan Ambisi Menulis di Kompasiana …

Much. Khoiri | | 18 September 2014 | 01:35

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14



HIGHLIGHT

Lolos CPNS Tanpa Sogokan …

Asri . | 8 jam lalu

Jokowi, PDIP, dan SBY Demokrat …

Forro Chandra | 8 jam lalu

Meningkatkan Guru Anak Usia Dini Lebih …

Heny Darwis | 8 jam lalu

Reformator… Jangan Pernah Lengah Mengawal …

Sjahrir Hannanu | 8 jam lalu

Akhirnya …

Rudi Kurniawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: