Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Perpustakaan Kementerian Keuangan

"An investment in knowledge pays the best interest." -Benjamin Franklin

Toleransi Hukum di Jalan Raya

OPINI | 16 April 2012 | 14:30 Dibaca: 222   Komentar: 4   0

Daripada balapan liar di jalan raya, mengapa tidak menulis, menuangkan gagasan di Kompasiana saja? Mengapa tidak belajar ke perpustakaan saja? padahal jelas bahwa manfaat yang didapatkan lebih nyata. Ide, gagasan, uang dan kerja keras belum mendapatkan tempat tertinggi di hati dan pikiran para pemuda kita sebagai wujud prestasi dan kesuksesan dalam kehidupan. Ini adalah tantangan bagi para guru, orang tua dan kita semua untuk mewujudkan itu. Saya yakin, budaya arogansi masyarakat komunal di negara kita akan semakin terkikis oleh globalisasi & kapitalisme. Seiring meningkatnya jumlah lapangan kerja dan naiknya kesejahteraan, energi untuk sekedar nongkrong sambil balapan tengah malam yang sangat melelahkan akan segera dilupakan. Lembaran rupiah saya kira  lebih menarik bagi setiap orang.

Fenomena balapan liar bukan hal baru. Penyakit itu sudah puluhan tahun dibiarkan menjangkiti semakin banyak orang muda. Apapun alasannya ketika jalan raya tidak digunakan sebagaimana fungsinya, tentu dapat dikatgorikan sebagai pelanggaran hukum. Demikian juga balapan liar, parkir liar, “ngetem” liar yang semuanya itu terjadi di jalan raya harus berani dikategorikan sebagai pelanggaran hukum. Karakter masyarakat kita yang permisif karena memiliki toleransi yang sedemikian tinggi, terbukti kontra produktif dengan penegakan hukum di negara ini. Bagaimana dengan demonstrasi di jalan raya? apakah para pembalap liar yang setiap malam “menghantui” setiap orang yang lewat di Kemayoran mendapatkan perlakuan yang sama dari aparat? Seringkali logika dan tafsir “hukum” di Indonesia ini sulit dimengerti.

Struktur dan budaya masyarakat Indonesia masih menempatkan “keberanian” sebagai wujud prestasi. Berani berkendara dalam kecepatan tinggi dirasakan sebagai bentuk simbol yang menjamin eksistensi orang muda. Absennya keteladanan, minimnya prestasi, salah tafsir “toleransi hukum”,  dan budaya arogansi mengakibatkan kesewenangan di jalan raya diteladani, unjuk kekuatan/ kecepatan mendapatkan pembenaran. Tidak ada yang salah dengan pemuda kita, kreatifitas dan energi yang suka tantangan itu harus mendapatkan tempat yang tepat untuk dituangkan. Dalam masalah semangat dan keberanian, saya yakin subsidi adrenalin tidak diperlukan oleh angkatan muda Indonesia. Semoga kasus gerombolan bermotor menjadi bahan renungan bagi kita. Sudahkah kita membuang “toleransi hukum” dalam keseharian kita?

Salam,

www.perpustakaan.depkeu.go.id

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 6 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 6 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 10 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 11 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 12 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 12 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: