Artikel

Hukum

Adjat R. Sudradjat

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Ingin terus menulis sampai tak mampu lagi menulis

Indonesia Lahan Subur Bagi Premanisme*


OPINI | 24 February 2012 | 20:06 Dibaca: 195   Komentar: 5   Nihil

Belakangan ini di media massa ramai diperbincangkan tentang ditangkapnya seorang John Kei, atau John Refra, yang konon salah seorang pentolan preman Ibu kota yang berasal dari pulau Kei di Maluku sana, kemudian disusul dengan insiden pembantaian para pelayat di rumah duka RSPAD Gatot Subroto, yang diduga dilakukan oleh kelompok preman juga.

“Apa sih preman  itu?”

Menurut kamus, kata preman berasal dari bahasa Belanda, vrijman, dan bahasa Inggris freeman, yang artinya orang bebas, atau merdeka. Sementara dalam kamus bahasa Indonesia maknanya adalah: 1. Swasta, partikelir, non-pemerintah, bukan tentara, sipil; 2. Sebutan kepada orang jahat (yang suka memeras, dan melakukan kejahatan); 3. Kuli yang menggarap sawah. Dalam perkembangan selanjutnya, kata preman digunakan untuk sebutan kepada orang yang jahat, yang suka melakukan pemerasan, dan selalu berbuat kriminal.

Sedangkan dalam aksinya, preman cenderung dilakukan secara keroyokan dalam suatu kelompok, bahkan lebih tepat dikatakan kelompok yang terorganisir,  daripada aksi kejahatan perseorangan yang terkadang dilakukan secara dadakan. Bahkan lahan para preman tidak hanya terbatas di perempatan jalan, atau  di pasar ,dan sekedar di terminal, melainkan sudah merambah ke seluruh aspek kehidupan.

Fenomena yang terjadi saat ini, kelompok-kelompok preman yang terorganisir, bahkan dilegalisasikan keberadaannya oleh pemerintah dengan bentuk organisasi kemasyarakatan, sering dimanfaatkan ‘jasa’-nya oleh para pengusaha, kaum selebritis, dan politikus untuk  melanggengkan eksistesi dan meningkatkan gengsi, baik sebagai bodyguard (pengawal pribadi), atau sebagai debt collector (juru tagih), bahkan hingga pembunuh bayaran.

Bahkan beberapa kelompok preman yang tercatat memiliki ‘nama besar’, tidak sekedar sebagaimana disebutkan di atas, melainkan sudah merambah pada bisnis kotor lainnya, seperti usaha prostitusi, jadi bandar narkoba, atau perjudian dengan omzet yang sangat besar.

Dengan bermunculannya kelompok-kelompok preman, jelas telah menebar ancaman ketakutan, karena dalam aksinya mereka tak sungkan-sungkan berlaku sadis sampai tega membantai korbannya tanpa rasa kemanusiaan. Dan hal ini jelas merupakan tantangan bagi pemerintah, khususnya aparat penegak hukum untuk dapat memulihkan keadaan yang sudah sedemikian parahnya itu.

Hanya saja selama ini tampaknya para aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugasnya, disinyalir hanya setengah hati. Bahkan terkesan membiarkannya.  Sehingga tak salah bila kemudian muncul pula tuduhan bila polisi memang sengaja membiarkannya, malahan sekan dipelihara, karena para aparat itu pun mendapat ‘setoran’ dari kelompok-kelompok preman yang lumayan besar.

Itulah sebabnya, mengapa Indonesia menjadi lahan yang subur bagi tumbuh-kembangnya premanisme, karena memang tidak adanya ketegasan dari pihak berwenang untuk menciptakan rasa aman nan penuh kedamaian.

Selain itu, faktor ekonomi  pun bisa jadi sebagai biang keladi tumbuh suburnya aksi premanisme ini. Ketidak-mampuan pemerintah  dalam menciptakan stabilitas perekonomian, sehingga menimbulkan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK), dan berakibat pada meningkatnya jumlah angka pengangguran, pada ahirnya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, apapun dilakukan tanpa memperdulikan hal-haram lagi.

Sementara  pemerintah sendiri  tampaknya sulit untuk menuntaskan permasalahan ini. Karena dalam tubuh mereka (baca: Pemerintahan) telah dirasuki pula oleh gaya-gaya premanisme. Betapa tidak, praktik korupsi, manipulasi, suap, hingga sikap arogan, seolah merupakan bagian dari tugas keseharian mereka. Sehingga wajar pula jika sebagian besar rakyat Indonesia memandang skeptis, bahkan apatis  terhadap penyelesaian masalah yang satu ini.

Dari berbagai sumber

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: