Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Dedi Kurnia Syah | Azra

Telah menulis setidaknya lebih dari 5 buku bertema Komunikasi, Politik dan Demokrasi. Saat ini sedang selengkapnya

Nenek Mencuri Singkong dan Hakim Teladan

REP | 10 February 2012 | 23:04 Dibaca: 6266   Komentar: 7   2

Sungguh memekakkan telinga pemberitaan media massa tentang hukum di Indonesia, bukan sekali dua kali kasus yang menjerat kaum miskin desa maupun kota, mulai dari pencurian buah semangka tetangga, buah coklat, kapuk, hingga sandal jepit. Semua media seolah bungkam dengan sisi lainnya. Dan dengan penuh semangat terlalu tendensius menghakimi penegak hukum yang tidak berhati, buta dan tutup telinga dalam menegakkan keadilan.
Saya mendapat pesan singkat hari ini, mungkin saja tidak up to date, tapi bukan persoalan. Pesan tersebut sangat menusuk saya, bahwa sebenarnya kita semua berteriak polisi tidak adil, hakim tidak pro rakyat, dan sebagainya. tanpa sadar, sesungguhnya kita juga bagian dari apa yag kita teriakkan setiap harinya itu.
Kasus ini terjadi pada tahun 2011 di Kab. Prabumulih, Lampung. Hakim Marzuki duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa Penuntut Umum (PU), sedang terjadi sengketa hukum yang melibatkan PT. Andalas Kertas (Group Bakrie) dan seorang Nenek. Tuntutan dalam perkara tersebut hanya persoalan tuduhan pencurian singkong.
Nenek tersebut saat berbicara di depan sidang, mengatakan ia sedang kelaparan lantaran anak laki-lakinya sedang sakit, juga cucunya yang sedang menahan lapar. Dengan dalih tersebut, sambil beberapa kali menitikkan air mata, suara yang hampir tidak terdengar ia bercerita, dengan harapan mendapan ampunan dari penuntut.
Namun pihak PT. Andalas Kertas bersikukuh untuk menuntut kasus tersebut, dengan alasan agar menjadi contoh warga lainnya.
Hakim Marzuki menghela nafas panjang, sambil menatap Nenek tersebut untuk membacakan putusanya. “Maafkan saya, saya tidak mampu membuat keputusan sendiri, hukum tetaplah hukum, jadi anda tetap di hukum. Saya putuskan bahwa anda di denda sebesar 1 juta rupiah, jika tidak memiliki uang sebanyak tuntutan, maka anda harus di hukum penjara selama 2.5 tahun sebagaimana tuntutan jaksa” Tak kuasa mendengar itu, nenek tersebut lesu dan tak mampu berkata sepatah kata-pun.
Sementara itu, hakim Marzuki berdiri dan mencopot topi toganya, mengambil dompet dan membuka, menarik uang dari dalam dompet tersebut sebanyak 1 juta rupiah dan di masukkan ke dalam topi toga. “Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda 50 ribu rupiah kepada hadirin semuanya, karena tinggal di kota ini dengan kelalaian, membiarkan seorang warga kelaparan hingga terpaksa mencuri”.
Akhirnya, nenek tersebut terbebas dari beban denda dan pulang membawa uang sebanyak 3,5 juta, termasuk 50 ribu rupiah dari PT. Andalas Kertas.
Tentu cerita di atas tidak disukai oleh media, sehingga kita yang harus menyebarkan kisah serupa untuk membebasan keterpurukan hukum Indonesia.

Semoga bermanfaat

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Jadi Petugas Patroli dan Tukang …

Weedy Koshino | | 20 April 2015 | 09:35

Tetajuren, Mengalirkan Air dari Dinding …

Syukri Muhammad Syu... | | 20 April 2015 | 21:56

Belajar Tenar dari Natasha Farani Attamimi …

Nur Hasanah | | 19 April 2015 | 21:51

Belajar dari R.A. Kartini, Pejuang Wanita di …

Riana Dewie | | 20 April 2015 | 13:19

Jadwal Kegiatan Kompasiana di Bulan April …

Kompasiana | | 31 March 2015 | 18:08


TRENDING ARTICLES

Ada Rasa KIH dan KMP dalam Kisruh PSSI …

Mustafa Kamal | 7 jam lalu

Mati Ketawa Cara Korea Utara (Kisah Nyata) …

Daniel H.t. | 8 jam lalu

Membedah Blunder SK Pembekuan Menpora …

Himam Miladi | 9 jam lalu

Pertamina Akan Cekoki Kita dengan Pertalite …

Abd. Ghofar Al Amin | 10 jam lalu

Harusnya Akun Twitter Korban Pembunuhan …

Agung Soni | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: