
Alah Bisa Karena Biasa Malu Bertanya Sesat Di Jalan Sesat Di Jalan Malu-maluin Besar Kemaluan Tidak Bisa Jalan Pilihan selalu GOLTAM
Dibaca: 152
Komentar: 4
2 dari 2 Kompasianer menilai aktual
Keterpurukkan multidimensi di Republik Indonesia yang kita cintai disebabkan oleh adanya “Musuh Dalam Selimut”. Sebenarnya saat ini Indonesia sedang dijajah oleh musuh yang sama yaitu oleh perusahaan/korporasi besar/konglomerat yang menguasai perekonomian negara dan penguasa telah didikte baik pada jaman penjajahan Belanda dulu maupun jaman sekarang. Jaman Belanda, Korporasi yang bernama VOC mendompleng pemerintah Belanda untuk menguras dan menjual sebesar-besarnya kekayaan alam kita untuk keuntungan dan kepentingan sendiri. Sedangkan yang terjadi sekarang adalah para konglomerat/orang yang menguasai perekonomian negara yang jumlahnya hanya sekitar 30.000 orang telah mendikte penguasa dan elite-elite kekuasaan.
Memang enak jadi konglomerat sampai mereka lupa untuk menangis dan itu beda dengan orang miskin yang sampai lupa untuk tersenyum. Konglomerat sampai lupa menangis karena kalau rugi/bangkrut ditalangi oleh pemerintah dan sebaliknya kalau untung untuk diri sendiri dan mengemplang pajak. Sedangkan orang miskin sampai lupa tersenyum karena hidupnya tidak ada yang memperhatikan dan kalau perlu diusir atau disingkirkan dari ibu kota ini.
Mulai dari kasus Eddy Tanzil, kasus BLBI, kasus Masoro yang melibatkan Anggoro dan yang terakhir kasus Bank Century dimana hukum republik ini sepertinya susah dan rumit untuk menyentuh mereka serta dengan gampangnya hukum dipermainkan oleh tangan-tangan yang tidak tampak (unvisible hand) sehingga menimbulkan rasa ketidakadilan di masyarakat terutama masyarakat bawah.
Untuk itu saya menyarankan kepada para pejabat negara kalau mau melakukan korupsi jadilah koruptor yang profesional, jangan pernah meminta sedikit kepada orang yang menyuap/menyogok/memanfaatkan anda untuk menggolkan tujuan/proyeknya. Misalnya hanya mendapatkan 500 juta harus rela di penjara sementara orang/perusahaan yang menyogok anda mendapatkan 100 Milyar dan hidup berleha-leha di negeri seberang. Jadi kalau bisa minta 99% dari keuntungan mereka dan beri 1% untuk yang mempunyai proyek.
Kemudian kalau dikatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2008 mencapai 6 % maka yang terjadi seharusnya rakyat Indonesia selalu senyum dan tertawa karena adanya lapangan pekerjaan, pendidikan gratis (gratis beneran), jaminan kesehatan, jalan-jalan mulus sampai ke pelosok kampung/desa, orang yang tadinya naik sepeda berganti dengan naik motor (dalam arti sebenarnya bukan kredit motor jor-joran) dan perputaran uang cepat karena banyak orang yang membelanjakan uangnya. Tetapi apa yang terjadi ? Silakan menilai sendiri.
Selanjutnya mantan Menteri Pertanian Anton Apriantono pernah mengatakan bahwa dari 25 juta penduduk Indonesia yang berprofesi sebagai Petani, 13 jutanya adalah petani gurem (miskin) dan buruh tani. Kata beliau buruh tani seharusnya tidak dimasukkan dalam profesi petani. Buruh ya buruh. Terus kalau dikatakan buruh maka mereka seharusnya mendapatkan penghasilan setara dengan UMP/UMR, bukannya malah dibayar hanya Rp 10 ribu per hari (kerja mulai dari jam 7-12) seperti yang diperlihatkan pada acara reallity show TV7 ”Aku Ingin Menjadi…”.
Mantan Menteri Pertanian Anton Apriantono juga mengatakan bahwa ada yang salah dengan anggapan masyarakat mengenai harga beras dimana seharusnya harga beras itu mahal dan tidak murah, Kalau bisa jangan turun harganya demi kesejahteraan petani. Pertanyaannya adalah mengapa saat harga beras dunia naik yang mengakibatkan naiknya harga beras nasional kok petaninya tidak mendapatkan apa-apa malah rugi? Kenapa beras impor bisa lebih murah dari beras domestik/lokal? Kenapa pupuknya harus impor dan tidak menggunakan pupuk lokal dari bahan organik yang seandainya sampah organik dikumpulkan dari seluruh Indonesia dan dijadikan kompos apa tidak akan menghasilkan pupuk organik yang luar biasa jumlahnya???
Jawaban dari semua masalah itu adalah adanya musuh dalam selimut (Enemy Within) di negeri ini.