
Dulu wartawan peliput politik nasional dan internasional. Sekarang sehari-hari ikut 'ngurusin' harian Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV.
Dibaca: 163
Komentar: 9
1 dari 1 Kompasianer menilai aktual
pernah seorang menteri jaman pak harto, tiba-tiba lehernya seperti abis patah dan disangga dengan sesuatu yang warnanya putih. kesannya, lehernya sakit benar dan memang harus disangga supaya tidak lepas dari badannya. orang itu hebat dan bergitu kuat sehingga ia pernah berganti-ganti posisi dari eksekutif ke legislatif. di legislatif pun ia menjabat pimpinan.
saat lehernya disangga itu, ia sedang menjadi saksi suatu kasus yang bisa melibatkan namanya, sehingga bisa menjadikannya tersangka. waktu itu, ia sedang menjadi pimpinan legislatif. saya lalu mengunjunginya di sebuah rumah sakit, tempat ia dirawat. dan …kami akhirnya ngobrol panjang lebar dan sama sekali tidak terkesan ia sakit. malah ia dengan terus terang mengatakan tidak sakit apa-apa kok. “ya itung-itung istirahat saja deh,” kata tokoh tersebut.
yang terakhir yang kita saksikan adalah betapa seorang bekas bupati daerah kaya di kalimantan mendapat liputan media begitu gencar tentang kesakitannya. dari liputanya di televisi tampak jelas kondisi orang ini sangat memprihatinkan. wajahnya seperti 0rang terkena stroke. dan, pemerintah turun tangan untuk meyakinkan semua orang bahwa tersangka ini memang benar-benar sakit dan perlu perawatan yang ongkosnya juga dibayar pemerintah. tapi setelah pengadilan membebaskannya dengan alasan kemanusiaan, terbetik kabar orang itu sekarang sehat walafiat. sekarang jangan-jangan ia sedang jalan-jalan menikmati uang hasil korupsinya tersebut.
hari-hari terakhir ini, seorang perempuan yang sungguh menyebalkan juga tiba-tiba sakit di depan penyidik. tersangka korupsi ini lalu juga diperbesar dramanya dengan kondisi hilang ingatan. anehnya, selama ini, orang yang hilang ingatan ini bisa jalan-jalan mondar-mandir di beberapa negara tetangga dengan tenang.
kita sudah bosan rasanya melihat berbagai tipu muslihat ini, bukan? yang paling patut dipertanyakan, kok ada dokter yang rela dibayar untuk suatu kebohongan publik ya. lalu, semua orang seperti tidak berdaya apa-apa melihat kondisi seperti ini.
sampai sejauh ini saya belum mendengar ada dokter yang ditindak gara-gara tindakan absurd mereka itu. apa ikatan dokter indonesia tidak merasa tersinggung ya dengan adanya anggota yang ngawur begitu. ada nggak ya hati nurani para dokter melihat maraknya pembelaan mereka terhadap para penjahat korupsi di negeri ini.
saya tidak mau berkomentar lebih jauh dari para dokter. tapi mudah-mudahan para dokter juga tetap bisa terlibat menjadi bagian yang turut membersihkan negeri ini dari para koruptor yang sekarang sudah layak disebut “penjahat korupsi” itu.