Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Ardiansyah Jasman

Dewan Pembina Lembaga Kemahasiswaan Di Universitas Negeri Makassar....

Realitas Hukum dan HAM Indonesia

REP | 21 September 2011 | 18:24 Dibaca: 1080   Komentar: 0   0

Teriakan supremasi hukum masih saja menggema, menggaung tinggi dan terus digelorakan sebagai perwujudan kebutuhan akan keadilan bagi setiap manusia. Tak dapat dipungkiri bahwa akses dalam penegakan hukum hari ini telah mengalami pemblokiran oleh kelompok-kelompok yang berkuasa sehingga kaki hukum begitu mudah dipincangkan. Berbagai kasus hukum yang menjerat tokoh politik yang terindikasi mempunyai hubungan kekerabatan/politik (link) oleh penguasa seolah kebal oleh jeratan jeruji hukum sebab peran penguasa mampu membisukan lidah-lidah penegak hukum untuk mengaung layaknya singa yang menuntut kebenaran.

Tak henti-hentinya problematika selalu silih berganti datang mendera, memojokkan kebenaran, melumpuhkan keadilan atas kreasi tangan-tangan sang penguasa yang memegang remote hukum. Padahal harapan yang kita idam-idamkan bersama adalah bagaimana kondisi ideal berupa penegakan supremasi hukum disertai penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM dapat disemai pada instansi hingga pada aparat penegakan hukum di negeri ini.

Elemen yang kemudian diharapkan bergerak melakukan perubahan dalam mendobrak berbagai permasalahan Hukum dan HAM adalah insan-insan intelektual yang telah mendapatkan gelar sebagai mahasiswa. Strategi dan langkah taktis merupakan hal-hal yang dirindu-rindukan hadir dalam menunaikan beban moral yang telah menjadi tanggungjawab.

Upaya berupa aksi pengawalan setidaknya mampu mengurangi sedikit beban permasalahan yang mengusutkan benang keadilan, sebab telah sengaja dimatikan oleh desain elite penguasa. Perlawanan yang dibingkai dengan totalitas adalah jimat yang harus dimiliki para pejuang-pejuang kebenaran, hingga pada endingnya cita-cita dalam menegakkan supremasi hukum dapat berkibar di bumi pertiwi.

Komitmen dan loyalitas seharusnya dijadikan pijakan dalam menuntun langkah-langkah strategis dan arah kebijakan lembaga. Bekerja keras dan pantang menyerang dalam mewujudkan harapan-harapan rakyat yang pernah diracik dalam sebuah wadah bernama sumpah jabatan. Setidaknya dengungan-dengungan kalimat janji yang telah terlontar menjadi bisikan-bisikan menakutkan dikala senja datang, menghantui lubuk hati sanubari sang para punggawa akan sebuah kado mengerikan berupa buih neraka yang menanti di akhirat kelak. Semoga kita semua sadar akan hal itu. (aR)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menikmati Kuliner di Puncak Gunung …

Ngesti Setyo Moerni | | 27 January 2015 | 06:26

Bila Mendadak Anda Ditangkap Polisi (Belajar …

Eddy Mesakh | | 27 January 2015 | 18:58

Inggris Kemproh dan Jorok …

Ardi Dan Bunda Susy | | 27 January 2015 | 14:45

6 Tips Raih Beasiswa Master ke Amerika …

Anet Adilla | | 27 January 2015 | 05:50

Tampil di KompasianaTV Harus Siap Mental …

Alan Budiman | | 27 January 2015 | 06:41


TRENDING ARTICLES

Kemana Jusuf Kalla, Saat Jokowi …

Thomson Cyrus | 9 jam lalu

“Diplomasi Makan Siang Jokowi” Tidak …

Benyaris A Pardosi | 9 jam lalu

Petugas Partai, Garis Komando PDI Perjuangan …

Isson Khairul | 10 jam lalu

KPK dan POLRI, Siapa Sesungguhnya Musuh …

Michael Sendow | 12 jam lalu

KPK Bukan Manusia Setengah Dewa …

Muthiah Alhasany | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: