Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Ardiansyah Jasman

Dewan Pembina Lembaga Kemahasiswaan Di Universitas Negeri Makassar....

Realitas Hukum dan HAM Indonesia

REP | 21 September 2011 | 18:24 Dibaca: 1019   Komentar: 0   0

Teriakan supremasi hukum masih saja menggema, menggaung tinggi dan terus digelorakan sebagai perwujudan kebutuhan akan keadilan bagi setiap manusia. Tak dapat dipungkiri bahwa akses dalam penegakan hukum hari ini telah mengalami pemblokiran oleh kelompok-kelompok yang berkuasa sehingga kaki hukum begitu mudah dipincangkan. Berbagai kasus hukum yang menjerat tokoh politik yang terindikasi mempunyai hubungan kekerabatan/politik (link) oleh penguasa seolah kebal oleh jeratan jeruji hukum sebab peran penguasa mampu membisukan lidah-lidah penegak hukum untuk mengaung layaknya singa yang menuntut kebenaran.

Tak henti-hentinya problematika selalu silih berganti datang mendera, memojokkan kebenaran, melumpuhkan keadilan atas kreasi tangan-tangan sang penguasa yang memegang remote hukum. Padahal harapan yang kita idam-idamkan bersama adalah bagaimana kondisi ideal berupa penegakan supremasi hukum disertai penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM dapat disemai pada instansi hingga pada aparat penegakan hukum di negeri ini.

Elemen yang kemudian diharapkan bergerak melakukan perubahan dalam mendobrak berbagai permasalahan Hukum dan HAM adalah insan-insan intelektual yang telah mendapatkan gelar sebagai mahasiswa. Strategi dan langkah taktis merupakan hal-hal yang dirindu-rindukan hadir dalam menunaikan beban moral yang telah menjadi tanggungjawab.

Upaya berupa aksi pengawalan setidaknya mampu mengurangi sedikit beban permasalahan yang mengusutkan benang keadilan, sebab telah sengaja dimatikan oleh desain elite penguasa. Perlawanan yang dibingkai dengan totalitas adalah jimat yang harus dimiliki para pejuang-pejuang kebenaran, hingga pada endingnya cita-cita dalam menegakkan supremasi hukum dapat berkibar di bumi pertiwi.

Komitmen dan loyalitas seharusnya dijadikan pijakan dalam menuntun langkah-langkah strategis dan arah kebijakan lembaga. Bekerja keras dan pantang menyerang dalam mewujudkan harapan-harapan rakyat yang pernah diracik dalam sebuah wadah bernama sumpah jabatan. Setidaknya dengungan-dengungan kalimat janji yang telah terlontar menjadi bisikan-bisikan menakutkan dikala senja datang, menghantui lubuk hati sanubari sang para punggawa akan sebuah kado mengerikan berupa buih neraka yang menanti di akhirat kelak. Semoga kita semua sadar akan hal itu. (aR)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | | 31 July 2014 | 17:04

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Ke Candi; Ngapain Aja? …

Ikrom Zain | | 31 July 2014 | 16:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 11 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 15 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 16 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 19 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: