Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Ardiansyah Jasman

Dewan Pembina Lembaga Kemahasiswaan Di Universitas Negeri Makassar....

Realitas Hukum dan HAM Indonesia

REP | 21 September 2011 | 18:24 Dibaca: 982   Komentar: 0   0

Teriakan supremasi hukum masih saja menggema, menggaung tinggi dan terus digelorakan sebagai perwujudan kebutuhan akan keadilan bagi setiap manusia. Tak dapat dipungkiri bahwa akses dalam penegakan hukum hari ini telah mengalami pemblokiran oleh kelompok-kelompok yang berkuasa sehingga kaki hukum begitu mudah dipincangkan. Berbagai kasus hukum yang menjerat tokoh politik yang terindikasi mempunyai hubungan kekerabatan/politik (link) oleh penguasa seolah kebal oleh jeratan jeruji hukum sebab peran penguasa mampu membisukan lidah-lidah penegak hukum untuk mengaung layaknya singa yang menuntut kebenaran.

Tak henti-hentinya problematika selalu silih berganti datang mendera, memojokkan kebenaran, melumpuhkan keadilan atas kreasi tangan-tangan sang penguasa yang memegang remote hukum. Padahal harapan yang kita idam-idamkan bersama adalah bagaimana kondisi ideal berupa penegakan supremasi hukum disertai penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM dapat disemai pada instansi hingga pada aparat penegakan hukum di negeri ini.

Elemen yang kemudian diharapkan bergerak melakukan perubahan dalam mendobrak berbagai permasalahan Hukum dan HAM adalah insan-insan intelektual yang telah mendapatkan gelar sebagai mahasiswa. Strategi dan langkah taktis merupakan hal-hal yang dirindu-rindukan hadir dalam menunaikan beban moral yang telah menjadi tanggungjawab.

Upaya berupa aksi pengawalan setidaknya mampu mengurangi sedikit beban permasalahan yang mengusutkan benang keadilan, sebab telah sengaja dimatikan oleh desain elite penguasa. Perlawanan yang dibingkai dengan totalitas adalah jimat yang harus dimiliki para pejuang-pejuang kebenaran, hingga pada endingnya cita-cita dalam menegakkan supremasi hukum dapat berkibar di bumi pertiwi.

Komitmen dan loyalitas seharusnya dijadikan pijakan dalam menuntun langkah-langkah strategis dan arah kebijakan lembaga. Bekerja keras dan pantang menyerang dalam mewujudkan harapan-harapan rakyat yang pernah diracik dalam sebuah wadah bernama sumpah jabatan. Setidaknya dengungan-dengungan kalimat janji yang telah terlontar menjadi bisikan-bisikan menakutkan dikala senja datang, menghantui lubuk hati sanubari sang para punggawa akan sebuah kado mengerikan berupa buih neraka yang menanti di akhirat kelak. Semoga kita semua sadar akan hal itu. (aR)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Menjadi Tim Sukses Caleg Gagal …

Harja Saputra | | 24 April 2014 | 08:24

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Nonton Pengumpulan Susu Sapi di Kampung …

Merza Gamal | | 24 April 2014 | 08:30

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 5 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 5 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 6 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 10 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: