Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Ardiansyah Jasman

Dewan Pembina Lembaga Kemahasiswaan Di Universitas Negeri Makassar....

Realitas Hukum dan HAM Indonesia

REP | 21 September 2011 | 18:24 Dibaca: 1027   Komentar: 0   0

Teriakan supremasi hukum masih saja menggema, menggaung tinggi dan terus digelorakan sebagai perwujudan kebutuhan akan keadilan bagi setiap manusia. Tak dapat dipungkiri bahwa akses dalam penegakan hukum hari ini telah mengalami pemblokiran oleh kelompok-kelompok yang berkuasa sehingga kaki hukum begitu mudah dipincangkan. Berbagai kasus hukum yang menjerat tokoh politik yang terindikasi mempunyai hubungan kekerabatan/politik (link) oleh penguasa seolah kebal oleh jeratan jeruji hukum sebab peran penguasa mampu membisukan lidah-lidah penegak hukum untuk mengaung layaknya singa yang menuntut kebenaran.

Tak henti-hentinya problematika selalu silih berganti datang mendera, memojokkan kebenaran, melumpuhkan keadilan atas kreasi tangan-tangan sang penguasa yang memegang remote hukum. Padahal harapan yang kita idam-idamkan bersama adalah bagaimana kondisi ideal berupa penegakan supremasi hukum disertai penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM dapat disemai pada instansi hingga pada aparat penegakan hukum di negeri ini.

Elemen yang kemudian diharapkan bergerak melakukan perubahan dalam mendobrak berbagai permasalahan Hukum dan HAM adalah insan-insan intelektual yang telah mendapatkan gelar sebagai mahasiswa. Strategi dan langkah taktis merupakan hal-hal yang dirindu-rindukan hadir dalam menunaikan beban moral yang telah menjadi tanggungjawab.

Upaya berupa aksi pengawalan setidaknya mampu mengurangi sedikit beban permasalahan yang mengusutkan benang keadilan, sebab telah sengaja dimatikan oleh desain elite penguasa. Perlawanan yang dibingkai dengan totalitas adalah jimat yang harus dimiliki para pejuang-pejuang kebenaran, hingga pada endingnya cita-cita dalam menegakkan supremasi hukum dapat berkibar di bumi pertiwi.

Komitmen dan loyalitas seharusnya dijadikan pijakan dalam menuntun langkah-langkah strategis dan arah kebijakan lembaga. Bekerja keras dan pantang menyerang dalam mewujudkan harapan-harapan rakyat yang pernah diracik dalam sebuah wadah bernama sumpah jabatan. Setidaknya dengungan-dengungan kalimat janji yang telah terlontar menjadi bisikan-bisikan menakutkan dikala senja datang, menghantui lubuk hati sanubari sang para punggawa akan sebuah kado mengerikan berupa buih neraka yang menanti di akhirat kelak. Semoga kita semua sadar akan hal itu. (aR)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | | 17 September 2014 | 05:23

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Jokowi Menghapus Kemenag atau Mengubah …

Ilyani Sudardjat | | 17 September 2014 | 13:53

Menempatkan Sagu Tidak Hanya sebagai Makanan …

Evha Uaga | | 16 September 2014 | 19:53

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | | 17 September 2014 | 19:50


TRENDING ARTICLES

Bangganya Pakai Sandal Jepit Seharga 239 …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 11 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 11 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 13 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pijat Refleksi Hilangkan Keluhan Lambungku …

Isti | 7 jam lalu

(Lumen Histoire) Sejarah dan Seputar …

Razaf Pari | 8 jam lalu

Kisah Pilu “Gerbong Maut” di …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Batik Tulis Ekspresif yang Eksklusif …

Anindita Adhiwijaya... | 8 jam lalu

Akherat, Maya Atau Nyata? …

Akhmad Fauzi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: