Artikel

Hukum

Linda

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

linda - TEMPO dan GATRA menempa saya untuk selalu jeli, kritis, menulis dengan jujur, dan bekerja keras. Hasilnya? Saya tidak tahu karena yang menilai tentu orang lain. Di KOMPASIANA ini saya sangat menghormati nama pemberian orang tua saya sehingga tidak perlu saya ganti dan palsukan, apalagi memalsukan wajah pada identitas diri. Blog pribadi saya, www.lindadjalil.com --- bila iseng, silakan mampir.

Selamat Jalan ke Bui, Mindo Rosalina!


OPINI | 21 September 2011 | 13:29 Dibaca: 685   Komentar: 45   2 dari 5 Kompasianer menilai menarik

Saya tidak kenal kamu, Mindo. Tapi saya mengikuti perkembangan berita dan persidanganmu. Akhirnya ketok palu bersuara hari ini. Dua setengah tahun hukumanmu. Curahkan air matamu setumpah-tumpahnya. Tidak apa-apa. Itu wajar. Bahwa di dunia ini ada hitam putih, ada air dan api, ada panas dingin, ada kaya miskin, ada jujur ada dusta, semua memang harus diakui.

Mindo, terimalah kamu sebagai orang bersalah. Saya, sekali lagi, tidak pernah kenal kamu sebelumnya. Namun ada luka di hati, saat kesaksianmu, keteranganmu, ada yang ’sengaja’  diabaikan oleh para penguasa di meja depanmu itu. Biar saja. Di hadapanmu ada jeruji besi kelak. Bernama bui. Pandanglah ruang itu nanti sebagai istana keimananmu. Sebagai tempat akrabmu mengobrol denganTuhanmu. Sebab Tuhan tak akan tinggal diam. Kamu menjadi korban, yang berkaitan denganmu masih tersenyum lebar berpesta pora dan masih sempat pula konon operasi hidungnya agar lebih sempurna. Urusan pernyataan dari telefon genggammu tentang permintaan uang dengan sandi Apel Malang Apel Washington bisa dianggap palsu, bisa pula dianggap kejadian yang sesungguhnya tapi harus diinjak musnah lenyap. Jadi, segala yang kamu utarakan itu, adakah manfaatnya bagi keringanan hukumanmu?

Kamu dihukum karena menyogok siapa?  Manusianya yang mana?  Adakah orang bisa memberikan sesuatu berupa apa saja kepada air yang mengalir, kepada angin kosong atau kepada setan belang jadi-jadian yang sama sekali tak berujud manusia? Biarlah Mindo. Tanggung saja semua yang dilimpahkan untukmu. Mulia di mata Tuhan jauh lebih bermakna ketimbang mulia di mata manusia. Bila memang kau merasa bersalah atas ulahmu, tebuslah di bui itu. Nyaman hati harus kamu ciptakan sendiri. Anggaplah itu adalah tempat mewah yang disediakan DIA untukmu. Sebab yang masih berkeliaran di rumah mewah sesungguhnya yang berlampu kristal berbuku seluruh tembok  berkolam renang dan bersofa seharga lima ratus lima puluh lima juta rupiah itupun belum tentu hatinya nyaman. Rasa bersalah menggelitik sepanjang malam bohong kalau tak ada, karena ia tentunya tahu apa yang sesungguhnya diperbuat, dan yang tidak ia perbuat. Bisa saja kamu yang menipu, Mindo, dan mengarang soal apel Malang apel Washington itu, namun bisa juga sebaliknya - bahwa orang itu memang pernah menodongmu uang dengan perumpamaan buah segar itu.

Apapun, kamulah yang sudah dihukum. Akibat dari dusta di awal cerita, dan pengusutan berikutnya, serta bukti-bukti yang menggodammu, maka kamu akan jalan ke bui itu. Hati wanita tegar  meski pada awalnya bersikeras penuh dusta, apabila menyesali kekhilafannya, tentu akan dipoles sepanjang waktu dari Tuhan, Mindo. Cobalah.  Tidak perlu lagi mengingat-ingat segala orang yang telah membuatmu merana seperti ini sekarang. Tidak perlu merasa menjadi korban dan menunggu korban berikutnya. Tampaknya akan percuma karena negeri kita masih jauh dari keadilan yang perkasa. Perlindungan dari ‘yang maha kuasa’ di bumi masih berlaku. Maka tinggal kita sebagai manusia hanya bergantung pada perlindungan dari Yang Maha Kuasa sesungguhnya…, Ilahi yang tak pernah berkedip melihat keculasan manusia.

Obatmu nanti di bui hanyalah pertobatan, ‘mengobrol’ dengan penuh cinta bersama  DIA. Biarkan ‘tangan’  Tuhan yang bergerak nanti. Kami, yang di luar dan jauh darimu, hanya tinggal menyaksikan saja drama besar ini kelak akan seperti apa di akhir cerita. Biasanya sih, di film-film tidak pernah ada penjahat  dajal penuh kezoliman yang menang. Bahwa ada korban dalam proses suatu peristiwa, tentu iya. Tapi yang jahat menjadi mulia sepanjang masa, tak akan pernah seperti itu ditentukan oleh NYA.  Percaya pada kekuatan doa selalu, Mindo ! Ingat, KEKUATAN DOA !

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: