Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Rekamahardika

Aku! Bila sampai waktuku kumau semua orang kan memelukku, begtu juga kau...!

Perbandingan Uptodate Hukum Cina dan Indonesia Terkait Korupsi

OPINI | 19 July 2011 | 07:02 Dibaca: 1224   Komentar: 6   0

Kenapa korupsi di Indonesia kian lama kian menggurita dan mengapa profesi “koruptor” menjadi profesi yang diidamkan dan menjadi paling menjanjikan di Indonesia? Anda pasti sepakat, pangkal persoalannya adalah HUKUM. Entahlah, barangkali ada kebijakan dari para penguasa negeri ini untuk terus memperingan hukuman buat koruptor. Dan bila hukuman diperberat, seperti hukuman seumur hidup atau mati, maka “mungkin” pemerintahan tidak akan berjalan karena separuh penguasa akan masuk bui dan mati. Keluarganya masuk bui dan mati. Koleganya masuk bui dan mati. Penegak hukumnya masuk bui dan mati. Karena pertimbangan itulah, korupsi harus dipupuk untuk kelangsungan bangsa ini. Hehehe…

Mari kita bandingkan penegakan hukum ihwal korupsi dengan membandingkan dua berita dari Detik.com yang dicopas hari ini.

Beijing, 19/07/2011, Detik.Com. Otoritas China menghukum mati dua mantan pejabat pemerintah daerah karena menerima suap senilai puluhan juta dolar AS.

Pengadilan Tertinggi Rakyat China menyatakan, kedua pria bernama Xu Maiyong dan Jiang Renjie itu dieksekusi pada Selasa, 19 Juli dini hari waktu setempat. Demikian seperti diberitakan kantor berita resmi China dan dilansir AFP, Selasa (19/7/2011).

Xu yang merupakan mantan Wakil Walikota Hangzhou, divonis mati pada Mei lalu. Pria berumur 52 tahun itu dikabarkan menerima sogokan senilai 198 juta yuan. Dia juga didakwa atas penggelapan dana dan penyalahgunaan kekuasaaan.

Pria itu dikenal akan gaya hidupnya yang berlebihan. Media China memberitakan, para penyidik menemukan banyak emas batangan dan perhiasan mahal di rumahnya. Dia juga memiliki banyak wanita simpanan.

Sedangkan Jiang (62), mantan Wakil Walikota Suzhou tersebut, divonis mati pada tahun 2008 lalu karena menerima suap lebih dari 108 juta yuan. Kedua pria itu merupakan anggota partai berkuasa China, Partai Komunis.

Upaya memerangi korupsi memang sedang gencar dilakukan otoritas China. Dalam pidatonya belum lama ini untuk memperingati hari jadi ke-90 tahun Partai Komunis, Presiden China Hu Jintao mengatakan, perang melawan korupsi merupakan kunci untuk memenangkan atau kehilangan dukungan publik dan menentukan mati hidupnya partai.

Bandingkan dengan

Tangerang, 19/07/2011. Benarkah Gayus Tambunan menciptakan sendiri lagu ‘Semua Kan Berakhir’? Saat didaulat untuk bernyanyi lagunya itu usai sidang, Gayus menampik. Dia hanya tertawa dan mengatakan itu urusan penyanyi.

“Hahaha, menyanyi itu urusan penyanyi,” kata Gayus usai sidang di Pengadilan Negeri Tangerang, Jl TMP Taruna, Tangerang, Banten, Selasa (19/7/2011).

Dia lantas menunjuk sang penyanyi lagu, Tety Rosalin Hutapea, yang juga hadir di persidangan. “Kalau saya hanya mencipta lagu,” kilahnya.

Terpidana kasus mafia pajak itu angkat bicara soal lagu ‘Semua Kan Berakhir’. Dia menegaskan lagu itu adalah ciptaannya saat sedang dikecam masyarakat atas perbuatannya.

“Ini bukan album. Ini lagu awal buatan saya tentang curhatan hati istri,” kata Gayus. Menurut Gayus, dia dan istrinya Milana Anggraeini sangat mencintai satu sama lain. Mereka 7 tahun berpacaran sebelum menikah. Oleh karena itu, apa yang menimpa Gayus sangat memukul hati istrinya.

“Ketika hari-hari saya penuh dengan tekanan dan kecaman dari masyarakat,” kata Gayus menjelaskan situasi yang melatari penulisan lagu itu.

Gayus menambahkan butuh waktu satu bulan untuk menulis lagu itu. Dia yakin, orang lain tidak akan sekuat dirinya dan Milana jika dalam posisi yang sama.

“Proses menulisnya satu bulan. Saya yakin jika Anda dalam posisi saya, tidak akan sekuat saya dan istri,” kata dia.

Gayus membantah lagu ini bernuansa politis ataupun untuk pengalihan isu. “Lagu ini bukan bermaksud rezim ini akan berakhir. Ini murni keluhan istri saya,” tegas dia.

Kesimpulan: Cina mampu bangkit dan maju karena penegakan hukum buat para koruptor berjalan sangat optimal dan menakutkan. Siapa sih yang mau korupsi kemudian dapat duit milyaran lantas keesokan harinya mati? Uang kan gak bisa dibawa mati?

Sedangkan di Indonesia, koruptor milyaran hanya dihukum maksimal 4 tahun plus remisi, penangguhan, alasan sakit, plus rekreasi ke luar negeri, paling banter hukumannya 1 tahun kurang. Koruptor dan calon koruptor juga mikir, gapapa korupsi di Indonesia toh nanti setelah keluar penjara uang hasil korupnya masih ada dan gakan habis 7 turunan. Yah…itung-itung dipenjara setahun dapat gaji milyaran, siapa yang gak mau? Lantas di penjara pun sangat mengasyikan, saking asyiknya Gayus sampai bisa bernyanyi dan membuat lagu…aduhai asoynya jadi koruptor di Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gayatri, Sang “Doktor Cilik” Itu Telah …

Randy Ghalib | | 24 October 2014 | 12:25

Ide Fadli Zon Bangun Perpustakaan & …

Hazmi Srondol | | 24 October 2014 | 08:54

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Tindak Pidana di Indonesia Masih Tinggi, Ini …

Joko Ade Nursiyono | | 24 October 2014 | 08:14

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Jokowi Marahin Wartawan …

Ifani | 6 jam lalu

Pelacur Berisi, Berintuisi di Dalam Selimut …

Seneng | 9 jam lalu

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 11 jam lalu

Jika Tak Lulus CPNS, Kahiyang Akan Jaga …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: