Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Visum Membuktikan Dia Bukanlah Korban Perkosaan

REP | 26 May 2011 | 11:27 Dibaca: 1163   Komentar: 10   2

Seorang wanita berumur 21 tahun datang ke SMF Obstetri dan Ginekologi rumah sakit tempat kami menuntut ilmu beberapa tahun lalu. Ia datang dengan diantar oleh kedua orangtuanya. Seorang dokter Sp.OG bergelar konsulen, setelah melakukan anamnesa lalu terjun denganku ke tempat tidur pasien berbaring. Kemudian memeriksa detail seperti yang diharapkan oleh keluarga dan permintaan penyidik terhadap pengaduan pemerkosaan terhadap miss.X ini.

Dokter Sp.OG (K) ini melihatkan padaku bagaimana caranya melakukan visum terhadap korban. Aku mengangguk memberi jawaban yang dilontarkan lewat matanya. Ia menanyakan padaku apakah aku bisa menyimpulkan visum ini atau tidak. Aku tersenyum dan kemudian mengangguk. Tidak susah melakukan visum untuk membuktikan korban benar mengalami pemerkosaan atau tidak.

Surat visum kemudian diisi segera, berdasarkan apa yang kami lihat dan kami dapatkan. Berdasarkan keterangan pasien yang kami visum ia mengaku bahwa ia diperkosa oleh orang yang tidak bertanggung jawab 3 hari yang lalu. Namun kami tidak menemukan yang dikatakannya adalah satu kebenaran, semuanya kami kembalikan ke penyidik berwenang.

Mengungkapkan kejahatan kesusilaan sering sulit dilakukan karena sulit mencari saksi mata, namun melalui mata sang ahli baik di TKP ataupun pada fisik dan vagina korban akan ditemukan bukti yang sesungguhnya.

Seseorang tidak bisa menudah seenaknya, mengaku menjadi korban pemerkosaan lalu meminta sang pelaku bertanggung jawab seperti halnya dalam kasus ini. Dari visum tidak ditemukan adanya tanda-tanda perlawanan ataupun tanda kekerasan. Sedangkan dari hymen atau selaput dara tampak bahwa terdapat jaringan ikat tanda penyembuhan yang biasanya ditemukan kurang lebih satu minggu setelah kejadian. Arah robekan selaput dara juga tidak menunjukkan bahwa ia mengalami pemerkosaan.

Setelah pasien dan keluarganya beranjak dari ruangan, dokter Sp.Og (K) yang melakukan visum menerangkan kepada para dokter muda prihal visum itu. Dan kami sepakat menyimpulkan bahwa pasien bukanlah mengalami perkosaan melainkan melakukannya atas dasar suka sama suka dan mau menuntut sang pria dengan motif tertentu. Pembicaraan itu hanya berakhir di meja diskusi untuk menjadi bahan pelajaran dan pengalaman bagi kami.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ozi Destayuza, Lahirkan Atlit Taekwondo Bawa …

Muhammad Samin | | 30 September 2014 | 21:47

Bercengkrama Bersama Museum NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | | 30 September 2014 | 21:35

Berani Klaim Gadjah Mada, Harus Hargai Kali …

Viddy Daery | | 30 September 2014 | 20:57

(Macau) Mengapa Anda Harus Berlibur ke …

Tria Cahya Puspita | | 30 September 2014 | 20:06

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Tifatul Sembiring di Balik Hilangnya …

Daniel H.t. | 8 jam lalu

Skenario Menjatuhkan Jokowi, Rekayasa Merah …

Imam Kodri | 10 jam lalu

SBY Hentikan Koalisi Merah Putih …

Zen Muttaqin | 10 jam lalu

Dari Semua Calon Menteri, Cuma Rizal Ramli …

Abdul Muis Syam | 10 jam lalu

Layakkah Menteri Agama RI Menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

(H-8) Jelang Piala Asia U-19 : Skuad …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Saat Impian Negara Menjadi Aksi Keluarga …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 8 jam lalu

Misteri Coban Lawe di Lereng Gunung Wilis …

Nanang Diyanto | 8 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: