Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Dhany Saputra

Saat ini Dhany Saputra adalah kandidat PhD di Center for Biological Sequence Analysis, TU Denmark, selengkapnya

Solusi Pemberantasan Korupsi

OPINI | 22 May 2011 | 10:13 Dibaca: 2785   Komentar: 5   0

Andai Aku Jadi Presiden: Seri 2

SBY tak rela besannya masuk penjara karena korupsi

SBY tak rela besannya masuk penjara karena korupsi

Kita semua tahu, salah satu masalah terbesar di Indonesia adalah korupsi. Berbeda dengan Denmark, New Zealand, dan Singapore yang merupakan negara yang paling tidak korup sedunia, Indonesia yang merupakan negara tetangga Singapore masih menduduki peringkat ke-19 negara paling tidak korup… dari bawah. Dan semakin tahun tarafnya semakin parah, berdasarkan Corruption Perceptions Index 2010. Korupsi harus diberantas, tapi banyak sekali alasan saat pemerintah setiap akan memberantas korupsi. Katanya korupsi sudah membudaya, harus dimulai dari teladan pimpinan. Tapi nyatanya sampai sekarang tidak pernah terlaksana.

Indonesia adalah salah satu negara terkorup

Indonesia adalah salah satu negara terkorup

Hukuman penjara MAKSIMAL sekian tahun terasa masih keenakan, bikin orang tertarik untuk korupsi lagi. Apalagi ada yang namanya penjara elite. Di sisi lain, hukuman penggal seperti di Cina sampai kepalanya digantung di atas jalan tol, dirasa kurang manusiawi.

Enaknya jadi koruptor di Indonesia

Enaknya jadi koruptor di Indonesia

Bagi saya, solusi jitu untuk memberantas korupsi malah ada dalam Hukum Islam. Lho, kok bisa?

Ya, dalam Islam dikenal namanya hukuman potong tangan. Tapi tidak semua pencuri dihukum potong tangan. Ada batasan yang sudah ditetapkan dalam Islam.

Ada hadits dari Shahih Bukhori, dari ‘Aisyah, istri Muhammad: “Tangan pencuri dipotong jika (curiannya) seperempat dinar keatas.”

Hadits dari Shahih Bukhori lagi, dari ‘Aisyah: “Tangan pencuri tidak dipotong di zaman Rasulullah jika telah mencapai senilai harga perisai.”

Hadits dari Shahih Bukhori lagi, menjelaskan tentang harga perisai, dari Ibnu ‘Umar: “Rasulullah memotong tangan pencuri karena mencuri perisai yang harganya 3 dirham”

Hadits Bukhari, berisi aturan dalam Islam yang komplementer dengan Alquran

Ringkasan Hadits Bukhari, berisi ringkasan aturan dalam Islam yang komplementer dengan Alquran

Dinar dan Dirham terbuat dari logam mulia. Di zaman nabi, dinar adalah emas 22 karat dengan berat 4.25 gram, sedangkan dirham adalah perak dengan berat 2.975 gram. Sementara di zaman Nabi, harga kambing adalah 2 dinar, dan harga ayam adalah 1 dirham. Jadi, bisa diperkirakan bahwa harga ayam di zaman Nabi adalah Rp 37 ribu dan harga kambing adalah Rp 850 ribu. Perlu dicatat bahwa di zaman nabi, uang dirham dan dinar itu bisa saling ditukar.

Dinar dan Dirham

Dinar dan Dirham

Batas seperempat dinar untuk hukum potong tangan adalah sekitar Rp 212,500 sedangkan tiga dirham adalah Rp 111,000. Selisih ini terjadi saat saya merupiahkan Dirham dan Dinar. Menteri keuangan dan pakar sejarah Islamlah yang lebih kompeten dalam merumuskan angkanya. Tapi, batas pencurian yang harus dipotong tangan dalam Islam adalah sekitar angka itu. Orang yang mencuri uang Rp 30,000 tidak sampai mendapatkan hukuman potong tangan, tapi hukuman lain yang lebih ringan, misalnya seperti dalam hukum Islam yaitu sedikit kerja rodi untuk bisa mengganti rugi sebanyak dua kali jumlah yang dicuri.

1 Kambing = 1 Dinar

1 Kambing = 1 Dinar

Lalu apa dampaknya kalau Indonesia menerapkan hukum potong tangan? Dampaknya, pencuri-pencuri yang mencari sesuap nasi (di bawah seratus ribu rupiah) tidak akan dipotong tangannya, sedangkan pencuri di atas dua ratus ribu rupiah akan dipotong salah satu tangannya. Sudah pasti kalau ada pejabat yang tangannya dipotong, dia tidak perlu dihukum mati, tapi dia akan menjalani hidupnya dengan satu (atau bahkan dua) tangan buntung karena dipotong. Kalau tidak dihukum mati, koruptor itu akan merasakan ‘hidup enggan mati tak mau’. Siapa yang tidak kapok korupsi lagi kalau tangannya sudah dipotong seperti itu? Dampak berikutnya adalah bahwa semua orang akan tahu bahwa orang ini dulunya pernah korupsi atau mencuri dengan jumlah besar. Hukum alam lah yang kemudian berbicara.

Potong tangan adalah hukuman yang pantas untuk koruptor besar

Potong tangan adalah hukuman yang pantas untuk koruptor besar

Bukannya saya rasis dan memihak agama tertentu, tapi kalau aturan itu sudah pernah established dan berhasil, mengapa tidak kita terapkan di Indonesia untuk memberantas korupsi?

To sum up, siapapun yang jadi presiden, saya himbau untuk menerapkan hukum Islam dalam memberantas korupsi, dijamin angka korupsi akan menurun dengan sangat drastis. Di awal pemerintahannya, presiden tersebut bisa memberi waktu dua minggu (atau sesuai kesepakatan bersama) untuk sosialisasi, memberi waktu untuk bertobat, dan mengembalikan uang korupsi kalau dia merasa menerima suap. Setelah masa itu berlalu, siapapun berhak mengajukan dakwaan terhadap kasus korupsi, hukum potong tangan akan mulai diterapkan. Tentunya, ada hukumannya juga untuk orang yang menuduh seseorang itu korupsi, padahal tidak.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Terima Kasih Sunyi …

Syndi Nur Septian | | 25 July 2014 | 01:45

Rahasia Kecantikan Wanita Dayak Kalimantan …

Ayu Sintha | | 24 July 2014 | 20:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: