Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Romi Rifaldi

berbagi ilmu dan informasi untuk kemaslahatan

“KEBEBASAN YANG BERTANGGUNG JAWAB”

OPINI | 10 February 2011 | 16:07 Dibaca: 2183   Komentar: 1   0

Masih teringat dalam pikiran saya tentang pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) waktu duduk dibangku SMA, jelas sekali penjelasan dari guru yang mengatakan bahwa “Setiap orang maupun kelompok apapun mempunyai kebebasan, dan kebebasan tersebut adalah kebebasan yang bertanggung jawab” dengan arti bahwa kebebasan seseorang maupun suatu kelompok tidak berbenturan dengan kebebasan orang lain maupun kelompok lain”.

Melihat kepada persoalan kelompok Ahmadyah dengan umat islam yang ada di Indonesia, jelas sekali bisa dilihat telah terjadi pelanggaran terhadap apa yang disebut dengan “Kebebasan yang bertanggung jawab” tadi.

Gambaran kasarnya bisa dilihat sebagai berikut : Kelompok Ahmadyah yang meminta untuk diberikan hak kebebasan untuk menjalankan ibadah dan keyakinan mereka namun tidak bisa menerapkan prinsip kebebasan yang bertanggung jawab karena keyakinan pihak Ahmadyah yang menyatakan mereka Islam tapi dalam ajarannya masih mengakui ada nabi setelah nabi Muhamad dan mengakui adanya kitab lain selain Alqur’an, hal ini sangat jelas tidak menganut kebebasan yang bertanggung jawab, karena ajaran mereka itu mengusik agama islam yang notabene telah mengakui nabi Muhamad sebagai nabi akhir jaman dan Alqur’an sebagai kitabnya, sehingga dapat dikatakan kebebasan yang diminta oleh kelompok ahmadyah tersebut merupakan kebebasan yang melukai agama Islam secara keseluruhan (bisa dikatakan kebebasan yang tidak bertanggung jawab)

Implikasi dari hal diatas jelas akan memunculkan suatu kebebasan yang tidak bertanggung jawab lainnya, ini bisa dilihat dari terjadinya penyerangan-penyerangan serta kekerasan dari pihak yang tidak menerima ajaran Ahmadyah tersebut dalam hal ini kalangan Islam, dimana kekerasan yang dilakukan tersebut juga merupakan bentuk kebebasan yang tidak bertanggung jawab karena ekspresi diri mereka untuk menentang Ahmadyah menyebabkan kerusakan dan kerugian dari pihak lain.

Dalam permasalahan Ahmadyah dan Umat islam di Indonesia ini, bagaimana caranya bisa diterapkan “Kebebasan yang bertanggung jawab” ini agar tidak terjadi benturan-benturan antara kaum Ahmadyah dengan umat Islam Indonesia lainnya ; Jawaban pertanyaan ini sebelumnya terjadinya kekerasan-kekerasan belakangan ini terhadap kaum Ahmadyah telah dijawab oleh pemerintah dengan mengeluarkan SKB 3 (tiga) menteri, namun SKB tersebut ternyata tidak menyelesaikan permasalahan, malah menjadikan masalah ini menjadi bara api dalam sekam yang suatu saat dan kapan saja bisa terbakar, apalagi sosialisasi serta pemahaman masyarakat terhadap SKB 3 Menteri tersebut tidak sampai kepada kalangan bawah yang notabene berhadapan langsung dengan permasalahan ini, dan walaupun saat ini para menteri tersebut sedang mengusahakan perubahan dan perbaikan terhadap SKB tersebut, menurut hemat saya itu tidak akan menyelesaikan permasalahan, karena inti permasalahannya adalah adanya pelanggaran terhadap prinsip “Kebebasan yang bertanggung Jawab”.

Untuk menghindari terjadinya pelanggaran terhadap kebebasan yang bertanggung jawab ini dalam kasus ahmadiyah ini menurut hemat saya ada 2 (dua) pilihan jalan yang bisa ditempuh dimana kedua cara ini sangat berbeda dan mungkin sangat sulit untuk diterima oleh kaum Ahmadiyah :

  1. Pihak ahmadiyah secara sadar harus menyatakan bahwa kaum ahmadiyah merupakan kaum dengan agama baru (Apapun nama agamnay) dan keluar dari agama islam, sehingga otomatis mereka bisa melaksanakan kebebasan yang bertanggung jawab tersebut karena mereka memiliki aliran agama sendiri dan tidak melukai agama Islam.
  2. Jalan kedua ini mungkin agak ekstrim dan berada ditangan pemerintah, dimana untuk menghindari tidak terjadinya kebebasan yang bertanggung jawab tersebut pihak pemerintah harus menyatakan” Ahmadiyah adalah ajaran terlarang” dan harus dibubarkan dengan konsekuensi dan catatan bahwa pemerintah harus menjamin hak setiap warga bekas ahmadiyah aman dari intimidasi pihak manapu.

Dari kedua jalan penyelesaian tersebut, menurut hemat saya maka jalan pertamalah yang terbaik untuk dilaksanakan dan ini membutuhkan kesadaran yang besar dari kaum Ahmadiyah, apakah mereka mau untuk mengambil jalan ini?????

(Ini hanya merupakan opini, bukan merupakan provokasi, mudah-mudahan bisa bermanfaat, karena bagaimanapun, hak hidup seseorang harus dijamin dan terhindar dari bentuk kekerasan apapun)…..Bali ©2011

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 11 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 12 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 12 jam lalu

Ini Pilihan Jokowi tentang Harga BBM …

Be. Setiawan | 13 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Walikota Kota Bogor Bima Arya Sugiarto …

Hakeem Elfaisal | 8 jam lalu

Guru (di) Indonesia …

Inne Ria Abidin | 8 jam lalu

“Remember Me” …

Ruby Astari | 8 jam lalu

Subsidi BBM: Menguntungkan atau Malah …

Ian Wong | 9 jam lalu

Dua Oknum Anggota POLRI Terancam Hukum …

Inne Ria Abidin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: