Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Romi Rifaldi

berbagi ilmu dan informasi untuk kemaslahatan

“KEBEBASAN YANG BERTANGGUNG JAWAB”

OPINI | 10 February 2011 | 16:07 Dibaca: 2055   Komentar: 1   0

Masih teringat dalam pikiran saya tentang pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) waktu duduk dibangku SMA, jelas sekali penjelasan dari guru yang mengatakan bahwa “Setiap orang maupun kelompok apapun mempunyai kebebasan, dan kebebasan tersebut adalah kebebasan yang bertanggung jawab” dengan arti bahwa kebebasan seseorang maupun suatu kelompok tidak berbenturan dengan kebebasan orang lain maupun kelompok lain”.

Melihat kepada persoalan kelompok Ahmadyah dengan umat islam yang ada di Indonesia, jelas sekali bisa dilihat telah terjadi pelanggaran terhadap apa yang disebut dengan “Kebebasan yang bertanggung jawab” tadi.

Gambaran kasarnya bisa dilihat sebagai berikut : Kelompok Ahmadyah yang meminta untuk diberikan hak kebebasan untuk menjalankan ibadah dan keyakinan mereka namun tidak bisa menerapkan prinsip kebebasan yang bertanggung jawab karena keyakinan pihak Ahmadyah yang menyatakan mereka Islam tapi dalam ajarannya masih mengakui ada nabi setelah nabi Muhamad dan mengakui adanya kitab lain selain Alqur’an, hal ini sangat jelas tidak menganut kebebasan yang bertanggung jawab, karena ajaran mereka itu mengusik agama islam yang notabene telah mengakui nabi Muhamad sebagai nabi akhir jaman dan Alqur’an sebagai kitabnya, sehingga dapat dikatakan kebebasan yang diminta oleh kelompok ahmadyah tersebut merupakan kebebasan yang melukai agama Islam secara keseluruhan (bisa dikatakan kebebasan yang tidak bertanggung jawab)

Implikasi dari hal diatas jelas akan memunculkan suatu kebebasan yang tidak bertanggung jawab lainnya, ini bisa dilihat dari terjadinya penyerangan-penyerangan serta kekerasan dari pihak yang tidak menerima ajaran Ahmadyah tersebut dalam hal ini kalangan Islam, dimana kekerasan yang dilakukan tersebut juga merupakan bentuk kebebasan yang tidak bertanggung jawab karena ekspresi diri mereka untuk menentang Ahmadyah menyebabkan kerusakan dan kerugian dari pihak lain.

Dalam permasalahan Ahmadyah dan Umat islam di Indonesia ini, bagaimana caranya bisa diterapkan “Kebebasan yang bertanggung jawab” ini agar tidak terjadi benturan-benturan antara kaum Ahmadyah dengan umat Islam Indonesia lainnya ; Jawaban pertanyaan ini sebelumnya terjadinya kekerasan-kekerasan belakangan ini terhadap kaum Ahmadyah telah dijawab oleh pemerintah dengan mengeluarkan SKB 3 (tiga) menteri, namun SKB tersebut ternyata tidak menyelesaikan permasalahan, malah menjadikan masalah ini menjadi bara api dalam sekam yang suatu saat dan kapan saja bisa terbakar, apalagi sosialisasi serta pemahaman masyarakat terhadap SKB 3 Menteri tersebut tidak sampai kepada kalangan bawah yang notabene berhadapan langsung dengan permasalahan ini, dan walaupun saat ini para menteri tersebut sedang mengusahakan perubahan dan perbaikan terhadap SKB tersebut, menurut hemat saya itu tidak akan menyelesaikan permasalahan, karena inti permasalahannya adalah adanya pelanggaran terhadap prinsip “Kebebasan yang bertanggung Jawab”.

Untuk menghindari terjadinya pelanggaran terhadap kebebasan yang bertanggung jawab ini dalam kasus ahmadiyah ini menurut hemat saya ada 2 (dua) pilihan jalan yang bisa ditempuh dimana kedua cara ini sangat berbeda dan mungkin sangat sulit untuk diterima oleh kaum Ahmadiyah :

  1. Pihak ahmadiyah secara sadar harus menyatakan bahwa kaum ahmadiyah merupakan kaum dengan agama baru (Apapun nama agamnay) dan keluar dari agama islam, sehingga otomatis mereka bisa melaksanakan kebebasan yang bertanggung jawab tersebut karena mereka memiliki aliran agama sendiri dan tidak melukai agama Islam.
  2. Jalan kedua ini mungkin agak ekstrim dan berada ditangan pemerintah, dimana untuk menghindari tidak terjadinya kebebasan yang bertanggung jawab tersebut pihak pemerintah harus menyatakan” Ahmadiyah adalah ajaran terlarang” dan harus dibubarkan dengan konsekuensi dan catatan bahwa pemerintah harus menjamin hak setiap warga bekas ahmadiyah aman dari intimidasi pihak manapu.

Dari kedua jalan penyelesaian tersebut, menurut hemat saya maka jalan pertamalah yang terbaik untuk dilaksanakan dan ini membutuhkan kesadaran yang besar dari kaum Ahmadiyah, apakah mereka mau untuk mengambil jalan ini?????

(Ini hanya merupakan opini, bukan merupakan provokasi, mudah-mudahan bisa bermanfaat, karena bagaimanapun, hak hidup seseorang harus dijamin dan terhindar dari bentuk kekerasan apapun)…..Bali ©2011

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Buron FBI Predator Seks Pedofilia Ada di JIS …

Abah Pitung | | 23 April 2014 | 12:51

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Food Truck - Konsep Warung Berjalan yang Tak …

Casmogo | | 23 April 2014 | 01:00

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 4 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 6 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 7 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 7 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: