
Lahir dan dibesarkan PALEMBANG, melarat di tanah jawa
Dibaca: 194
Komentar: 16
1 dari 1 Kompasianer menilai Menarik
Ita Lismawati F. Malau, Aries Setiawan
VIVAnews - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan bahwa korupsi berupa penggelembungan harga atau mark up masih membudaya di Indonesia. Kejahatan ini, kata SBY, jelas sangat merugikan keuangan negara.
“Kita bisa beli 10 kendaraan tapi karena harganya di mark up cuma dapat tujuh mobil. Begitu juga bangunan harusnya bisa beli enam, misalnya, jadi hanya tiga. Apalagi jika jumlahnya ratusan,” kata SBY dalam Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi (KNPK) yang diadakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu 1 Desember 2010.
Selain itu, SBY juga menekankan korupsi di tubuh penegak hukum. Upaya pemberantasan korupsi akan sia-sia jika penegak hukum tidak bersih.
“Kalau mau menyapu lantai yang kotor harus dengan dengan sapu bersih,” kata dia. “Bisa dibayangkan jika kita angkat pedang untuk korupsi tapi penegak hukum terlibat korupsi.”
Satu hal lagi yang menjadi penekanan SBY adalah penghapusan perilaku koruptif saat memberikan pelayanan publik.
Banyak hal juga Pak Presiden…..
Ternyata saya punya Presiden yang punya komitmen kuat untuk memberantas korupsi.
Ternyata pula saya punya Presiden yang tahu cara-cara memberantas korupsi.
Juga Ternyata saya punya Presiden yang tau tata cara orang-orang pemerintahan berkorupsi ria.
Dan ternyata lagi saya punya Presiden yang mengetahui bahwa praktik Korupsi itu merugikan rakyat banyak.
Tapi sayang pak Presiden…….., yang kami inginkan bukan retorika pemberantasan korupsi belaka, yang kami inginkan bukan paparan kuliah dari bapak dampak dari perilaku korupsi, kami tidak butuh kata-kata dari Bapak Presiden tentang pemberantasan korupsi TAPI KAMI BUTUH TINDAKAN NYATA dari Presiden yang katanya dalam kampanye akan memimpin LANGSUNG, berada di garda terdepan untuk memberantas korupsi.
Monggo pak silahkan………………………