Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Pecel Tempe

apalah arti sebuah nama

Gara-gara Janda Montok

OPINI | 13 October 2010 | 18:43 Dibaca: 3883   Komentar: 32   1

Ilustrasi

Sikap warga Desa Montok, kecamatan Larangan Madura ini patut diacungi jempol yang begitu perhatian kepada sesama warganya, khususnya terhadap janda Montok, jangan coba2 menyatroni Janda Montok  jika tidak ingin mendapat masalah.  Kepala Desa Artodung, Pamekasan, Jawa Timur, Suhartono ini mungkin tidak mengerti atensi warga desa Montok terhadap janda Montok, tanpa permisi dia menyatroni rumah sang janda, tentu saja ulah sang Kades desa tetangga itu membuat warga desa Montok marah.  Maka,  digeruduklah  sang Kades tetangga oleh warga Desa Montok karena menyatroni rumah seorang janda Montok tengah malam. Sang kades kemudian diarak ke balai desa dengan tuduhan selingkuh. Seorang warga Desa Montok, menceritakan sudah lama warga mengintai prilaku sang kades. apalagi sang kades tidak hanya bertamu, tapi memasukkan sepeda motor miliknya ke rumah sang janda bernama Titik Kurnia, kemudian mengunci pintu dan mematikan lampu diteras depan.

Pihak kepolisian  yang dilapori kejadian tersebut akhirnya berhasil meredam emosi warga yang memuncak sehingga tidak sampai berujung anarkis. Kepala Desa Montok Wahed Hasyim  yang badannya tidak montok itu  berhasil menenangkan warganya dibantu anggota Kepolisian Resor Pamekasan. Wahed kemudian memfasilitasi penyelesaian masalah dugaan perselingkuhan itu. Istri sang kepala desa pun didatangkan, musyawarah berlangsung hingga dini hari. Berdasarkan keterangan istri sang kades, kata Wahed, suaminya itu bukan berselingkuh. Titik Kurnia yang sehari-hari mengajar di sebuah sekolah dasar di kecamatan Kadur itu diakui sebagai istri kedua suaminya. Untuk menguatkan kesaksiannya, istri pertama sang kades membuat pernyatan tertulis bahwa Titik Kurnia adalah istri kedua suaminya. Demi janda montok dan keselamatan suaminya itu, istri sang kades ini juga patut diacungi jempol atas kesetiaannya, walaupun hati tak rela tetapi begitulah wanita yang mampu memendam rasa.

Pandangan terhadap janda, terlebih janda montok selalu dipandang dengan kemesuman. Pandangan seperti itu sesungguhnya karena pikiran masyarakat sendiri yang mesum sehingga selalu timbul prasangka buruk terhadap status janda. Doyan tetapi tidak punya keberanian sehingga yang timbul adalah api cemburu, kecemburuan inilah yang sesungguhnya mendorong tindakan main hakim sendiri. Berbeda halnya pandangan terhadap wanita yang berstatus gadis, jarang terjadi penggrebekan jika sedang disatroni pria. Pandangan terhadap seorang gadis tidak menimbulkan pikiran mesum karena berpikir tanggung jawabnya, salah2 akan berurusan dengan penegak hukum kalau sang gadis menuntut. Sebaliknya terhadap janda Montok, gampang ngelesnya kalau dituntut dinikahi sehingga mengundang pikiran mesum. Karena otak sudah mesum, berhubung tidak ada pemberitahuan pernikahan kepada warga oleh sang janda Montok itu, wargapun marah dibakar api cemburu buta, makanya emosi  tidak terbendung.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 2 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 3 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 3 jam lalu

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Dampak ‘Mental Proyek’ Pejabat …

Giri Lumakto | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: